Untuk apa KOALISI?
Tulisan original dari salah satu pesan di milis apakabar tulisan Rovicky Dwi Putrohari
Saat ini banyak prediksi-prediksi bahkan rekayasa untuk pemilu tahap ke II (Pemilihan Presiden) tentang koalisi antar partai-partai.
Partai A akan berkoalisi dengan partai B. Partai C tidak mau berkoalisi dengan Partai D, E dan F dan lain-lain.
Tapi pertanyaannya, untuk apa koalisi? Jelas dalam sistem anggota legislatif kali ini Presiden akan dipilih langsung dan bukan berdasarkan siapa yang mendapatkan (atau berhasil berkoalisi) untuk mendapatkan suara terbanyak di MPR.
Mungkinkah memanfaatkan suara rakyat yang “langsung” ini dikoalisikan utk Pemilu II? Rekayasa suara?
Jawabannya: bisa, mungkin dan tergantung! Perlu jelas dulu apa fungsi MPR (DPR) nanti dalam Pemilu tahap II?
Untuk saat-saat dini seperti saat ini, koalisi partai tidaklah sepenting hal lain yang lebih utama yaitu misalnya langkah-langkah strategis untuk kampanye presiden.
Koalisi yang dimaksudkan lebih kearah pengerahan dukungan basis masa partai (membentuk opini masyarakat) untuk bersama-sama mendukung seorang calon.
Ini pun tidak menjamin bentuk “koalisi” ini dapat berjalan dengan baik karena kata akhir tetap akan ada di pilihan rakyat (atau di sisi siapa yang mau membeli suara paling mahal), apapun masih mungkin terjadi.

Menurut saya, alasan 'pengerahan dukungan basis massa partai' sendiri sudah cukup kuat mendorong partai2 berkoalisi.
Itu salah satu bentuk usaha mereka menggolkan capres-cawapresnya, terlepas apakah itu menjamin keberhasilan atau tidak, gk ada salahnya mereka usaha. :)
kabinet pelangi yang "suram" lagi deh ...
Telah diketahui bahwa masyarakt kita masih banyak yang berbudaya ela-elu (pembeo). Tentu saja, pengerahan massa untuk mendukung capres tertentu mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk menyeret suara masyarakat ke capres itu. Membentuk opini publik adalah sangat penting. Grubyuk sana-grubyuk sini, itulah budaya kita.