Rasanya Baru Kemarin

| | Comments (13)

tujuhbelasagustus.jpg

Puisi Kemerdekaan dari Gus Mus (Mustofa Bisri) budayawan dan penyair NU, versi ke-9 (setiap tahun bertambah). Sumber dari JawaPos.co.id

 
RASANYA BARU KEMARIN (Versi IX)

Rasanya
Baru kemarin

Bung Karno dan Bung Hatta
Atas nama kita menyiarkan dengan seksama
Kemerdekaan kita di hadapan dunia.

Rasanya
Gaung pekik merdeka kita
Masih memantul-mantul tidak hanya
Dari para jurkam PDIP saja.

Rasanya
Baru kemarin.

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pelaku-pelaku sejarah yang nista dan mulia
Sudah banyak yang tiada. Penerus-penerusnya
Sudah banyak yang berkuasa atau berusaha
Tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
Sudah banyak yang turun tahta
Taruna-taruna sudah banyak yang jadi
Petinggi negeri
Mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
Sudah banyak yang jadi menteri dan didemonstrasi.

Rasanya
Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad lamanya.
Menteri-menteri yang dulu suka korupsi
Sudah banyak yang meneriakkan reformasi

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang selama ini terdaulat
sudah semakin pintar mendaulat
Pemerintah yang tak kunjung merakyat
pun terus dihujat

Rasanya baru kemarin

Padahal sudah lima puluh sembilan tahun lamanya.
Pembangunan jiwa masih tak kunjung tersentuh
Padahal pembangunan badan yang kemarin dibangga-banggakan
sudah mulai runtuh

Kemajuan semu sudah semakin menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
Krisis sebagaimana kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

Daging yang selama ini terus dimanjakan kini sudah mulai kalap mengerikan
Ruh dan jiwa
sudah semakin tak ada harganya

Masyarakat yang kemarin diam-diam menyaksikan
para penguasa berlaku sewenang-wenang
kini sudah pandai menirukan

Tanda-tanda gambar sudah semakin banyak jumlahnya
Semakin bertambah besar pengaruhnya
Mengalahkan bendera merah putih dan lambang garuda
Kepentingan sendiri dan golongan
sudah semakin melecehkan kebersamaan

Rasanya
Baru kemarin

Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
Pahlawan-pahlawan idola bangsa
Seperti Pangeran Diponegoro
Imam Bonjol, dan Sisingamangaraja
Sudah dikalahkan oleh Sin Chan, Baja Hitam,
dan Kura-kura Ninja

Banyak orang pandai sudah semakin linglung
Banyak orang bodoh sudah semakin bingung
Banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
Banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh angkatan empatlima sudah banyak yang koma
Tokoh-tokoh angkatan enamenam sudah banyak yang terbenam
Tokoh-tokoh angkatan selanjutnya sudah banyak yang tak jelas maunya

Rasanya
Baru kemarin

(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
Sudahkah kalian Benar-benar merdeka?)

Rasanya
Baru kemarin

Negeri zamrud katulistiwaku yang manis
Sudah terbakar nyaris habis
Dilalap krisis dan anarkis
Mereka yang kemarin menikmati pembangunan
Sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
Mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
Sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri

Mereka yang kemarin sudah terbiasa mendapat kemudahan
Banyak yang tak rela sendiri kesulitan
Mereka yang kemarin mengecam pelecehan hukum
Kini sudah banyak yang pintar melecehkan hukum

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka.

Mahasiswa-mahasiswa pejaga nurani
Sudah dikaburkan oleh massa demo yang tak murni
Para oportunis pun mulai bertampilan
Berebut menjadi pahlawan
Pensiunan-pensiunan politisi
Sudah bangkit kembali
Partai-partai politik sudah bermunculan
Dalam reinkarnasi

Rasanya baru kemarin

Wakil-wakil rakyat yang kemarin hanya tidur
Kini sudah pandai mengatur dan semakin makmur
Insan-insan pers yang kemarin seperti burung onta
Kini sudah pandai menembakkan kata-kata

Rasanya
Baru kemarin
Padahal sudah lima puluh sembilan tahun kita
Merdeka.

Para jenderal dan pejabat sudah saling mengadili
Para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali
Mereka yang kemarin dijarah
Sudah mulai pandai meniru menjarah
Mereka yang perlu direformasi
Sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
Mereka yang kemarin dipaksa-paksa
Sudah mulai berani mencoba memaksa

Mereka yang selama ini tiarap ketakutan
Sudah banyak yang muncul ke permukaan
Mereka yang kemarin dipojokkan
Sudah mulai belajar memojokkan
Mereka yang kemarin terbelenggu

Sudah mulai lepas kendali melampiaskan nafsu
Mereka yang kemarin giat mengingatkan yang lupa
Sudah mulai banyak yang lupa

Rasanya baru kemarin

Ingin rasanya aku bertanya kepada mereka semua
Tentang makna merdeka

Rasanya baru kemarin

Pakar-pakar dan petualang-petualang negeri
Sudah banyak yang sibuk mengatur nasib bangsa
Seolah-olah Indonesia milik mereka sendiri
Hanya dengan meludahkan kata-kata

Rasanya baru kemarin

Dakwah mengajak kebaikan
Sudah digantikan jihad menumpas kiri-kanan
Dialog dan diskusi
Sudah digantikan peluru dan amunisi

Rasanya baru kemarin

Masyarakat Indonesia yang berketuhanan
Sudah banyak yang kesetanan
Bendera merahputih yang selama ini dibanggakan
Sudah mulai dicabik-cabik oleh dendam dan kedengkian

Rasanya baru kemarin

Legislatif yang lama sekali non aktif
Dan yudikatif yang pasif
Mulai pandai menyaingi eksekutif
Dalam mencari insentif

Rasanya baru kemarin

Para seniman sudah banyak yang senang berpolitik
Para agamawan sudah banyak yang pandai main intrik
Para wartawan sudah banyak yang pintar bikin trik-trik

Rasanya
Baru kemarin

Tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
Tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru

Rasanya
Baru kemarin

Orang-orang NU yang sekian lama dipinggirkan
Sudah mulai kebingungan menerima orderan
NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjauhi politik praktis
Sudah kerepotan mengendalikan warganya yang bersikap pragmatis

Rasanya
Baru kemarin

Pak Harto yang kemarin kita tuhankan
Sudah menjadi pesakitan yang sakit-sakitan
Bayang-bayangnya sudah berani pergi sendiri
Atau lenyap seperti disembunyikan bumi
Tapi ajaran liciknya sudah mulai dipraktekkan
oleh tokoh-tokoh yang merasa tertekan
Anak dan antek kesayangan Bapak sudah berani tampil lagi
Mendekati rakyat lugu mencoba menarik simpati
Memanfaatkan popularitas dan kesulitan hidup hari ini

Rasanya baru kemarin

Habibie sudah meninggalkan
Negeri menenangkan diri
Gus Dur sudah meninggalkan
Atau ditinggalkan partainya seorang diri

Rasanya baru kemarin
Padahal sudah limapuluh sembilan tahun lamanya
Megawati yang menghabiskan sisa kekuasaan Abdurrahman
Mengajak Hasyim Muzadi merebut lagi kursi kepresidenan
Membangkitkan nafsu banyak warga NU terhadap kedudukan

Apalagi Wiranto yang mengalahkan Akbar
menggandeng Salahuddin keturunan Rais Akbar
Ikut bersaing merebut kekuasaan melalui Golkar
Dan didukung PKB yang dulu ngotot ingin Golkar bubar

SBY yang mundur dari kabinet Mega juga ikut berlaga
Dengan Jusuf Kalla menyaingi mantan bos mereka
Bahkan dalam putaran pertama paling banyak mengumpulkan suara

Amin Rais yang sudah lama memendam keinginan
Memimpin negeri ini mendapatkan Siswono sebagai rekanan
Sayang perolehan suara mereka tak cukup signifikan

Hamzah Haz yang tak dicawapreskan PDI maupun Golkar
Maju sendiri sebagai capres dengan menggandeng Agum Gumelar
Maju mereka berdua pun dianggap PPP dan lainnya sekedar kelakar

Rasanya baru kemarin

Rakyat yang sekian lama selalu hanya dijadikan
Obyek dan dipilihkan
Kini sudah dimerdekakan Tuhan
Dapat sendiri menentukan pilihan
Meski banyak pemimpin bermental penjajah yang keberatan
Dan ingin terus memperbodohnya dengan berbagai alasan
Rakyat yang kebingungan mencari panutan
Malah mendapatkan kedewasaan dan kekuatan
(Hari ini ingin rasanya
Aku bertanya kepada mereka semua
BagaimanA rasanya
Merdeka?)
Rasanya baru kemarin
Orangtuaku sudah lama pergi bertapa
Anak-anakku sudah pergi berkelana
Kakakku dan kawan-kawanku sudah jenuh menjadi politikus
Aku sendiri tetap menjadi tikus

(Hari ini
setelah limapuluh sembilan tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama)
Rasanya baru kemarin
Ternyata sudah limapuluh sembilan tahun kita
Merdeka

(Ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa:
Merdeka!)

 
Rembang, 17 Agustus 2004

 
Walau "kami" ini tidak pernah mengalami "kemarin"-nya Gus Mus tapi Blog Pemilu 2004, pemiliknya, pengisinya dan segenap pengunjungnya turut mengucapkan Dirgahayu Indonesia yang ke-59.

Semoga di tahun yang ke 59 ini juga, lewat Pemilu yang benar-benar Demokratis, kita akan mempunyai Presiden pilihan kita sendiri yang akan memimpin dan membawa bangsa ini ke tempat yang lebih baik.

Demi Bangsa dan untuk Indonesia yang lebih baik. Merdeka!

13 Comments

Tiasmarel said:

Rasanya baru kemarin saya gabung di Blog Pemilu 2004
Koq udah pinter n gak goblog lagi

HM SOEHARTO said:

rasanya baru kemaren dilengserkan daripada korsi presiden eh.. sekarang koq ingin duduk lagi...

kemarin said:

rasanya baru kemaren gue kirim comment banyak... tapi di kick terus sama si enda... kacian deh..

Ambar said:

Komnas HAM asked to take up issue of SBY and Wiranto Back

Detik.com - April 28, 2004

M. Rizal Maslan, Jakarta – United Solidarity for the Victims of Human Rights Violations (Solidaritas Kesatuan Korban Pelanggaran HAM, SKKP HAM) has called on the National Human Rights Commission (Komnas HAM) to take the initiative and have an active position on the process of nominating presidential and vice-presidential candidates. They also called on Komnas HAM to take up the issue of [former armed forces chief] Wiranto and [recently resigned coordinating minister for politics and security] Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) becoming presidential candidates.

These demands were submitted to Komnas Ham on Wednesday April 28 at the Komnas HAM offices on Jalan Latuharhary in Central Jakarta. The scores of SKKP HAM members were accompanied by the coordinator of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras) Usman Hamid and were received by the deputy chairperson of Komnas HAM, Solahuddin Wahid.

SKKP HAM said that Wiranto must be held accountable for human rights violations in Indonesia. This includes the abduction of activists1, the shooting of students at Trisakti and Semanggi2, the May 1998 riots in Jakarta and the scorched earth campaign waged the military in East Timor in 1999.

SKKP HAM said that SBY, who used to be the chief of staff of the Kodam Jaya (regional military command) should be held accountable for the attack on the Indonesian Democratic Party headquarters3 on Jalan Diponegoro on July 27, 1996. They also said that SBY is responsible for the policy of implementing martial law in Aceh.

“SKKP HAM does not want Gus Solah (Solahudin familiar name) to support Wiranto”, said Hamid. As has been reported, Gus Solah as been mentioned several times as Wiranto’s running mate for the position of vice-president.

On this question, Gus Solah denied it was true. “I have never been contacted by anyone, especially to become a vice-presidential candidate. I have also told PKB [the National Awakening Party] not to form a coalition with [the former state ruling party] Golkar”, said Gus Solah.

With regard to accusations of human rights violations committed by the two former generals, Gus Solah stated that Komnas HAM has done the maximum possible to investigate the cases. “We even recommended to President Megawati [that she] form an ad-hoc team to investigate the May riots. This issue should be taken up with the DPR [People’s Representative Assembly]”, said Gus Solah. (dit)

Notes:

1. On May 12, 1998, security personnel shot into a crowd of student protesters from the Trisakti University near their campus in West Jakarta, killing four students and injuring several. This proved to be the spark which set-off three days of mass demonstrations and rioting in Jakarta which eventually lead to the overthrow of former President Suharto. Similar incidents occurred on in November 1998 and September 1999 when troops opened fire on demonstrators from the Atmajaya University in Jakarta using rubber bullets and live ammunition in the area of Semanggi, South Jakarta, resulting in the death of dozens of student demonstrators.

2. Following weeks of protests at the Indonesian Democratic Party (PDI) headquarters in Central Jakarta by pro-Megawati PDI supporters after the Suharto regime engineered Megawati's removal as the party's democratically elected chairperson, on July 27, 1966, paid thugs backed by the military attacked and destroyed the PDI offices resulting in the death of as many as 50 people. Popular outrage at the attack sparked several days of mass rioting and violent clashes with police.

3. Between 1997 and 1998 as many as fourteen pro-democracy activists were abducted by members of the elite special forces Kopassus. After extended periods of detention - in many cases the victims were severely tortured - most were released although four remain missing and are presumed dead. Former Kopassus chief Lieutenant General Prabowo Subianto who was at the time President Suharto's son-in-law is alleged to have ordered the abductions. In April 1999, 11 low-ranking Kopassus officers were tried by a military court for the kidnappings and given sentences of between a year and 22 months in prison, although six of them were allowed to remain in the army.

[Translated by James Balowski.]

iwan jantera said:

merdeka itu apa ya gus, apa merdeka itu ketika kita bisa melakukan apa saja atau...
atau mungkin karena Allah tidak atau mungkin belum meniptipkan kekuatan dan kekuasaan sehingga kita bisa menentukan merdeka menurut Allah atau nafsiyah kita. semoga Allah merahmati kita dengan pilihan yang pertama. Amiin

jongos indon said:

gus, merdeka itu apa? apa merdeka itu sama seperti alat vital kaum perempuan? apakah alat vital perempuan gus?
apakah manis? sehingga bapak saya suka menjilatinya.
gus merdeka itu apa sih?
apakah merdeka sama dengan liang vagina?

makasih gus.

jongos indon said:

gus, merdeka itu apa? apa merdeka itu sama seperti alat vital kaum perempuan? apakah alat vital perempuan gus?
apakah manis? sehingga bapak saya suka menjilatinya.
gus merdeka itu apa sih?
apakah merdeka sama dengan liang vagina?

makasih gus.

faisal said:

puisinya mau saya muat di tabloid saya. mumpung lagi hari kemerdekaan.

muharis said:

kebanyaken

zulkifli said:

rasanya baru kemarin aku mengenal Kemerdekaan tapi skarang aku terpenjara oleh kekuasaan anjing-anjing.Bagaimana tidak terpenjara mencari uang aja slalu d uber-uber trantip...polisi PP..sialan aku tinggal di Bangsat Indonesia yg slalu terbelunggu oleh kekuasaan anjing-anjing yang berkuasa di Dpr

julay said:

rasanya baru kemaren 17an,sekarang dah 17an lg....bantuin gw dunks nyari puisi kemerdekaan,.bwt acara tasyakuran _panitia 17an_

Wah..ternyata pemikirin idealis perlu juga yah..setidak kita bisa bersikap nasionalis..Toink2 deh Aq...

LIA said:

hallo guysss... gw sukaaa banget deeh puisi ini khereeeen!!! Eh, email me at: princess_angelruby@yahoo.co.id eh, jangan lupa kunjungin yah www.cystage.com

About this Entry

This page contains a single entry by enda published on August 17, 2004 11:33 AM.

Mahkamah Konstitusi Menolak Permohonan Wiranto was the previous entry in this blog.

PKS Dukung SBY is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01