Penolakan Umum (Penolu)

| | Comments (2)

Bayangkan sebuah adegan pernikahan dalam film Hollywood, di mana di depan altar ketika sang pastor bertanya : "Those who know the reason why these two should not be joined in the holly matrimony shall speak up now or forever ...", sembilan belas tangan tiba-tiba mengacung. Sebelas laki --yang ternyata mantan si pengantin wanita dan delapan lainnya perempuan, mantan si laki yang dulu telah ditolak. Apa yang akan terjadi? Tentu repot. Tapi jangan kuatir, setidaknya ini tidak akan terjadi dalam film-film Hollywood, setidaknya belum selama kesembilanbelas mantan tadi bukan politisi karbitan dan pemimpin partai gurem Indonesia, yang tidak mengerti arti sebuah penolakan.

Amin Rais pernah bilang, buat partai dan kampanye itu ibarat jualan. Kalau konsepnya baik dan diterima ya jualannya laku. Kalau ngga alias ditolak, yah bangkrut.... Nah, ini satu konsep yang layak diperdebatkan. Apakah ketika sebuah partai tidak dipilih otomatis berarti partai tersebut ditolak? Dalam sistem bipartai seperti di amerika di mana dua partai besar mendominasi, pilihan terhadap satu partai dapat secara otomatis dapat dimaknai sebagai penolakan terhadap partai yang lain. Namun, dalam sistem multipartai dengan 24 kontestan, repotnya, pilihan terhadap satu partai belum tentu dimaknai sebagai penolakan terhadap 23 yang lain. Mungkin hanya kurang suka, biasa saja, agak benci sampai benci setengah mati.

Maka kebanyakan partai pun jadi gede rasa (ge er). Partai-partai bersuara kecil yang notabene ditolak mentah-mentah konsepnya oleh pasar pemilih, justru tidak merasa ditolak dan malah dengan seenaknya menolak suara rakyat. Ini diwujudkan dalam deklarasi penolakan pemilu beberapa hari yang lalu. Lalu wajar kalau banyak yang jadi bertanya, ini partai-partai maunya apa sih? Wong sudah ngga dipilih, apa tidak merasa ditolak?

Namun jelas ini bukan salah partai-partai gurem yang kurang dipilih. Karena dalam sistem pemilu sekarang tak ada indikasi jelas terhadap penolakan. Rakyat diberi kesempatan memilih, tapi tidak untuk menolak. Karena itulah, saya mengusulkan satu konsep jitu untuk menyadarkan partai-partai kecil penolak pemilu ini. Konsep ini saya namakan "Penolakan Umum (Penolu)" sebagai tambahan dari "Pemilihan Umum (Pemilu)". Dengan konsep ini rakyat dapat memilih partai pujaan sekaligus menolak opsi-opsi partai lainnya.

Caranya gampang, sama seperti Pemilu hanya ada tambahan sedikit. Pada hari pencoblosan, setiap pemilih terdaftar diberi kesempatan untuk masuk ke dalam bilik suara, di mana telah tersedia paku untuk mencoblos partai dan caleg pilihan, dan sepidol merah tebal untuk menandai partai-partai yang ditolak. Jadi disamping mencoblos satu partai pilihan, si pemilih pun diberi kesempatan untuk menandai kertas suara dengan sepidol besar pada partai dan caleg yang ditolaknya (ini bisa lebih dari satu). Tanda penolakan bisa bermacam-macam, untuk partai bisa dengan membuat tanda silang besar pada kotak gambar. Untuk caleg, dapat lebih bervariasi misalnya dengan menambahkan kumis atau memerahkan gigi pada photo caleg tolakan yang sedang nyengir, atau dengan menuliskan : "ditolak ni yeee...." pada jidat yang tersedia.

Nah, pada akhir proses penghitungan suara, jumlah suara coblosan dan tolakan pun dihitung. Partai yang paling banyak ditolak dilarang untuk ikut pemilu berikutnya, (konsep ini jelas lebih menjanjikan daripada electoral threshold yang sekarang), sementara caleg yang paling banyak ditolak disarankan untuk operasi plastik atau ganti kelamin.

Intinya, dengan konsep penolu, partai-partai dan caleg-caleg tersebut disadarkan bahwa mereka telah ditolak dan konsepnya tidak laku...maka...get lost! Dan jangan bikin hidup lebih susah dengan protes-protes penolakan anda. Mungkin sudah saatnya anda-anda lebih mendengarkan suara rakyat daripada kepentingan sepihak yang tak jelas juntrungannya.

Percayalah, semua orang pun tahu ditolak itu sakit. Tapi tak perlulah jadi panas dan membatalkan sebuah perkawinan bukan? Nah lho?!

2 Comments

enda said:

konsepnya jadi, kutahu yang ku tidak mau ya hehe..

yuyut said:

Bagus begitu, tapi gimana mau nge-tabulasinya, baru data suara terpilih aja server kpu-nya udah kentut-kentut

About this Entry

This page contains a single entry by published on April 14, 2004 11:54 AM.

Pasang iklan lebih murah daripada money politics was the previous entry in this blog.

George Says is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01