Mencoblos dalam lipatan

| | Comments (2)

Tidak ada yang menduga sebelumnya kalau masalah lipatan kertas suara bisa bikin blunder Pemilu kali ini. Malah ada yang sampai minta KPU agar mengundurkan diri.

Kalau mengikuti berita penghitungan suara di televisi kemarin, hampir semuanya memberitakan soal kericuhan yang terjadi di beberapa TPS. Ini menyangkut soal sah atau tidaknya kertas suara yang tercoblos di dua sisi. Sebagaimana diketahui, kertas suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden berisi 5 pasang foto pasangan calon. Sudah pasti ukurannya menjadi lebar, meski masih kalah lebar dengan kertas suara pada saat pemilu legislatif, April kemarin.

Entah kerena terburu-buru atau kerena tidak tahu, banyak kertas suara yang mengandung lubang coblosan lebih dari satu buah. Satu di kotak pasangan calon dan satu lagi, berada di atas pasangan calon yang ditusuk. Bisa dipastikan hal ini terjadi karena para pemilih langsung mencoblos kertas suara tanpa terlebih dahulu membuka keseluruhan kertas suara yang dilipat horisontal. Akibatnya dalam perhitungan terjadi perdebatan akibat perbedaan penafsiran dari peraturan sah atau tidaknya suara.

Menyikapi hal ini KPU bergerak cepat dengan menerbitkan surat keputusan yang menyatakan kurang lebih, "selama lubang coblosan yang lebih dari satu itu berada di kotak pasangan calon serta tidak mengenai calon lain, suara dianggap sah". Namun hal ini masih kurang cepat karena tidak semudah itu menyebarkan selembar surat ke seluruh TPS yang tersebar di seluruh Indonesia. Ujungnya, terjadilah kericuhan itu. Akhirnya banyak TPS yang terpaksa harus mengulang penghitungan suara.

Terus terang, hal ini musti disesali. Mengingat semestinya hal seperti ini bisa di eliminasi. Karena kejadian hampir mirip berlangsung pada saat Pemilu Legistatif kemarin. Namun menyalahkan KPU semata, mungkin kurang tepat. Karena bagaimanapun peran masyarakat yang ceroboh dan langsung mencoblos tanpa terlebih dahulu membuka lebar-lebar kertas suara, turut andil dalam kericuhan ini.

Ada baiknya semua pihak menyikapi hal ini dengan bijaksana. Karena toh tidak ada pihak yang dirugikan. Serta menyuruh mundur KPU di tengah jalan, juga bukan jalan keluar yang baik. Tapi menghadapi putaran kedua Pemilu Presiden [kalau ada] KPU harus melakukan sosialisasi lebih banyak lagi. Masyarakat juga musti lebih berhati-hati. Demikian juga komponen lain dalam Pemilu. Seperti Panwaslu, lembaga pemantau serta media. Dan yang terakhir, entah berhubungan atau engak, tim kampanye para calon mungkin bisa mengalokasikan dana kampanyenya untuk mengedukasi masyarakat soal bagaimana mencoblos yang baik dan benar.

2 Comments

enda said:

hal-hal tidak terduga baru ketauan pas hari h-nya ya hehe.. untung ga fatal (banget) :D

ditres said:

klo surat suara yang salah coblos ga di anggap rusak berarti yang rusak sistemnya, klo begitu enak yang punya kepentingan besar dalam pemilu presiden ini dong!!!

About this Entry

This page contains a single entry by published on July 6, 2004 3:43 PM.

Quick Count Pemilu LP3ES was the previous entry in this blog.

Kampanye Online dan Kandidat di Putaran Kedua is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01