Keselamatan ditangan siapa?

| | Comments (4)

Setiap pemilu entah kapanpun dan dimanapun, sepertinya satu hal yang pasti ada .. tentang keinginan "memperjuangkan nasib rakyat" entah itu suatu janji -- yang harusnya ditepati, atau apa. Entah dengan esensi apa juga, yang pasti, biar menang.

Lalu, proses untuk "memberi janji" ini ditujukan buat siapa? Rakyat. Ya, semua mengatasnamakan rakyat. Kalau penonton yang melihat kampanye, itu rakyat juga kan? Kalau menilik, dan mendengar beberapa opini, kayaknya salah satu soal issue keamanan, banyak yang bilang, "Sing penting ki aman, iso golek duit kepenak. (Yang penting itu aman, bisa cari uang dengan tenang)".

Nah, ini adalah salah satu kejadian yang benar-benar saya alami sendiri. Bahkan saya bukan sebagai penonton kampanye...

Jadi, ceritanya gini...
Saya sedang berada di warnet, ya biasa, memakai fasilitas umum. Pada saat itu, warnet dalam keadaan penuh, dan beberapa antri. Kalau dilihat dari jumlah orang yang ada, sekitar 15 - 20 orang. Rombongan konvoi-konvoi lewat, ada yang jumlah besar, ada yang jumlah kecil. Tiba-tiba, entah karena apa, user-user yang cewek pada teriak gak karuan, dan lari-lari di dalam warnet, menuju ke pojok. Ngumpet.

Saya sendiri juga bingung ada apa. Dalam kepanikan, saya pengen lihat ada apa -- ya cuman ngintip sih. Eh, tau tau ada suara (( seperti tembakan peringatan)) .. dua kali. Makin panik. Setelah agak tenang sedikit, semua yang di warnet langsung bayar, keluar, dan menyelamatkan diri. Yang jaga warnet tinggal 2 orang, satu cewek, satu cowok, akhirnya diminta untuk mbantuin nutup itu pintu warnet. OK, ditutup, akhirnya saya juga ikut terperangkap di dalam.

Ketika sudah agak tenang, dikasih tau, kalau tadi ada orang berpakaian hitam-hitam, dengan penutup muka, jalan ke arah warnet, dengan pedang. Iya, pedang, dan bukan seorang kapiten dengan pedang panjang.

Setelah semua ditutup, tiba-tiba saja digedor dari luar, demi amannya, didiamkan saja, dan menunggu.. menunggu... sampai semua tenang.

Untunglah semuanya selamat. Heran, jangankan jadi peserta kampanye, jangankan jadi caleg, jadi orang yang tidak tau apa-apa sudah harus siap korban nyawa...

4 Comments

enda said:

ya ampun, ternyata pemilu membangkitkan pendekar2x jaman si gua dari buta hantu ya (tebalik kan? hehe).

Kalman Filter said:

Kayaknya tulisan about Indonesia udah lama banget nggak akurat. Gue terakhir denger jumlah pulau di Indonesia 13,667 adalah kelas 5 SD (th 1988), di SMP kata guru gue sebanyak 15,000-an sementara terakhir menurut CIA World Factbook sebanyak 17,000-an (mungkin jadinya 16,998 dikurangi Sipadan-Ligitan)

erly said:

Ya itu karena kita diajak ikut pesta yang gak tau punya siapa dan buat siapa pestanya... :p

Yudha said:

PEMILU = PE - MILU
awalan PE itu berarti orang yg melakukan, MILU = Ikut
Jadi orang yg ikut-ikutan ...

Cuman sekarang mah, yg ikut2an dikit gimana bayaran kemaren tukang ojek di bayar 15 rebu untuk sekali pawai, kebayang kan klo ada 24 partai :D

About this Entry

This page contains a single entry by published on March 16, 2004 5:57 PM.

Caleg PKB yang Non-Muslim was the previous entry in this blog.

Pemilu Luber is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01