Kampanye Kesadaran

|

Pada masa politik yang lalu sering terjadi "Puisi dan Polisi", yakni setelah pembacaan puisi, polisi datang menggerebek. Atau malah baru minta izin pementasan sudah dipersulit, sehingga para seniman perlu menggunakan sekian banyak cara berkelit agar acara tetap bisa berlangsung. Hal ini agak berbeda dengan sebagian penyanyi yang justru pada masa kampanye, baik pada periode yang lalu sampai hari ini, beroleh kesempatan kontrak keliling Indonesia mengikuti jadwal kampanye yang padat. Akomodasi dan uang saku yang lebih dari cukup sudah jelas termasuk dalam paket.

Kesenian yang dipilih dalam acara propaganda partai juga dipilih yang mudah diterima, renyah, dan kalau perlu tidak usah "mikir". Kalau perlu mengajak massa berjoget, melupakan kepenatan hidup, dan pilihlah partai kami... Di sebuah artikel yang pernah saya baca dari koran Republika di sekitar tahun 1998, pernah diulas tentang idealisme para artis. Terutama waktu itu yang disorot adalah beberapa artis yang sampai melantunkan lagu-lagu pemujaan untuk pemimpin besar. Tidak terlupakan julukan jenaka "seniman tiga partai" karena begitu mudahnya sebagian penyanyi berganti-ganti panggung partai yang diikuti selama kampanye.

Bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan masih tetap perlu dan justru sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa "hilang rasa eling" di sekitar waktu pemilihan umum seperti sekarang. Tujuannya antara lain menjadi pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Gagasan yang dikemukakan para orator kampanye seharusnya bukan menjadi ekstase yang dalam sekejap membereskan persoalan negeri kita (partai mana yang bisa sehebat itu?). Demikian juga apabila kemudian hanya ditutup oleh joget musik dangdut, apa yang bisa diharapkan dari kesadaran yang tumbuh di benak audiens?

Barangkali kampanye partai politik memang bukan bertujuan ke arah sana. Itu urusan orang-orang "non-partisan" atau "kampanye ke arah kesadaran yang lebih nasional." Namun ironis juga, untuk keperluan meninabobokkan massa, dikeluarkan anggaran yang fantastis, sementara para penyair dengan puisi kesadaran mereka tidak jarang malah nombok dulu sebelum naik pentas.

Bukan karena kesadaran itu sedemikian murah tanpa harga, sebaliknya sedemikian mahal harganya, sehingga banyak partai tidak mampu membayarnya.

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu mengubah perilaku bangsaku.

"Ketika Indonesia Dihormati Dunia", dibacakan Taufik Ismail, di KPU, 9 Maret 2004.

About this Entry

This page contains a single entry by published on March 22, 2004 9:59 AM.

Jadwal Pemilu hari ini was the previous entry in this blog.

Lapor Pelanggaran Pemilu? is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01