KALAU AKU JADI AMIEN RAIS

| | Comments (57)

amien-rais.jpgTeman-teman sebangsa setanah air. Hari ini tanggal 8 Juli 2004 adalah hari ketiga sejak kita sama-sama memberikan suara pada pemilu yang disebut masyarakat dunia sebagai pemilu satu hari paling rumit dalam sejarah demokrasi.

Dalam kesempatan ini saya ingin memberikan selamat pada seluruh bangsa Indonesia yang telah berhasil melaksanakan pesta demokrasi ini dengan selamat, aman, dan tanpa korban jiwa yang signifikan. Pemilihan presiden langsung adalah sebuah acara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan sebuah prestasi yang luar biasa mengingat 6 tahun lalu kita masih berada dalam bentuk demokrasi semu.

Penghitungan suara memang belum selesai, tapi kita semua rasanya sudah bisa mengira-ngira siapa yang akan maju ke putaran kedua, karenanya ijinkan saya untuk mengucapkan selamat pada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Megawati yang akan melaju ke putaran ke dua pemilu presiden ini, yang mana salah satu diantara mereka akan menjadi Presiden Indonesia yang memimpin kita semua keluar dari krisis multi-dimensi ini.

Ada dua pilihan yang masih saya pertimbangkan saat ini. Menyatakan diri sebagai kekuatan oposisi pada pemerintahan yang akan terbentuk akhir tahun ini atau memberikan dukungan saya kepada salah satu calon presiden yang akan ditentukan pemenangnya September nanti.

Masing-masing pilihan mensyaratkan konsekuensi yang harus kita sama-sama pikul dan pasti akan saya pikirkan baik-baik.

Sementara itu, perkenankan saya menyampaikan sesuatu, saudaraku, para pendukungku, baik itu dari Muhamadiyah, NU, PKS maupun dari golongan manapun, janganlah berkecil hati, janganlah perilaku supporter sepakbola yang membuat kerusuhan ketika kalah kita ulang disini, janganlah menjadi bitter kata orang bule.

Biarkanlah kekalahan ini mendewasakan kita, membangunkan kita. Tidak ada yang salah dengan rakyat, kekalahan ini adalah bukti bahwa demokrasi berjalan dengan sempurna. 150 juta teman-teman kita dengan bebas memberikan suara pada pemilu kemarin. Reformasi tidak akan mati hanya karena saya tidak terpilih. Perubahan tidak akan mandeg karena bukan saya yang jadi presiden. Sejarah tidak berhenti hanya karena seorang Amien Rais.

Mari kita sama-sama tegakkan kepala dan merasa sebagai bagian dari bangsa ini, yang kalah dalam pemilu yang bersih. Kita terima kenyataan ini dengan dewasa dan besar hati. Kita semua sama-sama kecewa tapi jangan kita kotori usaha kita selama ini dengan kecurigaan-kecurigaan pada KPU, dengan kepahitan tuduhan kecurangan, dengan kemarahan.

Dari dasar hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih pada anda yang telah memberikan suaranya untuk mendukung saya dan dengan ini saya berjanji untuk tidak melupakan dukungan tersebut sampai kapan pun!

Mari kita buktikan pada semua orang bahwa pendukung Amien Rais adalah manusia-manusia berkualitas tinggi yang mampu kalah dan mampu bangkit kembali. Yang akan bekerja dan berusaha dengan baik di posisi apapun. Yang mengerti bahwa jalan panjang untuk Indonesia yang sejahtera, makmur, adil untuk semuanya ini baru dimulai.

Indonesia yang lebih baik ada didepan mata kita semua, mari kita sama-sama bangun, mari kita sama-sama jaga.

Terima kasih.

57 Comments

indah hartono said:

Ass. Wrb. Saya adalah salah satu dari pendukung Bp. Amin, bersyukur ternyata Bp. Amin berhati besar menerima kenyataan bahwa memang belum saatnya memimpin bangsa Indonesia, dan juga saya terharu ternyata Bp. Amin memberikan perhatian kepada pendukung-pendukungnya. Usul saya Bp. Amin lebih baik menjadi "pemerintahan oposisi" sehingga bisa ikut menjaga dan mengoreksi pemerintahan yang baru nanti menuju Bangsa yang lebih baik. Semoga Allah Meridhoinya. Amin. Wassalam

ISMAR said:

KAMI TETAP AKAN MENDUKUNG LANGKAH DAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN PA'AMIEN DALAM MEMBANGUN INDONESIA YANG LEBIH BAIK. BUAT KAMI "LEBIH BAIK KALAH DENGAN TERHORMAT KETIMBANG MENANG DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK JUJUR"
HIDUP AMIEN RAIS!!!!!

presiden said:

Menjadi presiden hanya merupakan pencapaian kecil dari segala jerih payah untuk membangun Indonesia.
Menjadi orang yang terhormat bagi bangsa, tidak harus dari kursi pemimpin yang berkuasa.
Menjadi orang bersih, jujur dan disanjung banyak orang, justru dari sikap dalam menerima kenyataan.

Kenyataan, saat perolehan suara partai yang jauh dari perkiraan.
Kenyataan, saat dijadiin terdakwa oleh Rosiana Silalahi di layar tv.
Kenyataan, saat dukungan dari beragam kalangan tak mampu menerbangkan..
Kenyataan.. bahwa idealisme kalah oleh fanatisme..

Indonesia mungkin memang belum cukup pintar untuk memilihmu, bapak..

Restui kami mengemban cita-cita-mu membangun Indonesia..
Kita tak jauh berbeda dalam bingkai mensejahterakan Indonesia..
Dukung kami untuk BENAR-BENAR mewujudkan apa yang telah kita janjikan pada RAKYAT...

Masih terngiang bapak..
"Tangan Siswono kecil, tangan Ibu Mega kecil, tangan Kiai Hasyim Muzadi kecil, tangan Amien kecil. Tangan Anda semua juga kecil, tapi 230 juta tangan kecil ini kalau sama-sama digerakkan, barangkali Gunung Semeru bisa runtuh. Karena itu, kata kuncinya adalah kebersamaan, kerja keras, ketekunan dan tidak pernah lupa, yang akhirnya hanya Allah yang menentukan."

Bapak benar.. : Bersama kita BISA !

golput said:

Gue bingung, ini yang nulis Amien Rais apa Enda sih?? *-|

enda said:

dah jelas2x gue, pan itu judulnya juga "kalo aku jadi amien rais" hueheh

goklas said:

Kalo aku pendukung fanatik Amien Rais, ku kan menitikkan air mata..sambil berucap lirih,....Amiieeeen....

yadin said:

Teruskankan perjuangan pak Amien dimanapun kau berada!!!, kita telah menyaksikan perjuangan bapak...,bertahun-tahun tanpa jemu, walau akhirnya yang memetik hasilnya adalah ORANG LAIN..., tak mengapa karena pak Amien dilahirkan di bumi Indonesia tercinta ini hanya untuk jadi seorang petani sederhana dan sabar menyemai benih untuk ibu pertiwi. Kami tidak menyesal memilih pak Amien. karena ini bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, karena kita tidak sedang main taruhan. tetapi ini tentang memilih yang BENAR dan bukan memilih DENGAN BENAR!!! selamat berjuang pak AMIEN!!!!

Adhy said:

Klo aku jadi Amien Rais?? Duh nggak kebayang dech, yang jelas aku lebih bersyukur menjadi diriku sendiri walo bukan siapa2. Buat Pak Amien perjuangan belum berhenti dengan kekalahan ini, persoalan bangsa belum segera tuntas dengan hadirnya pemerintahan baru, maka jangan hilangkan suara lantangmu untuk terus mengkritisi apabila jalan pemerintahan baru telah menyimpang dari cita2 reformasi. Sekali berjuang tetap berjuang.

Mulyono said:

Aku asli Pacitan yang tidak gembira dengan perolrhan suara ABY-Kalla, karena aku adalah pendukung setia Pak Amien. Aku mengikuti gerak-gerik beliau sejak beliau melontarkan wacana suksesi pada awal 90-an. Tampaknya Allah SWT belum mengizinkan kejujuran dan kebenaran memimpin bangsa ini. Namun, aku tak pernah menyesal telah 2x menyoblos PAN dan pilpres memilih Pak Amien. Ayo Pak berjuang terus, tanpa menjadi presiden pun Anda tetap dibutuhkan negeri ini dan sebagian besar anak bangsa yang rindu kebenaran. Wassalam
Salam buat Enda

risna said:

Buat mulyono

saya setuju dengan anda, mungkin bangsa ini belum siap untuk dipimpin oleh orang yang jujur dan bersih spt Amien Rais. Dan saya yakin para koruptor di negeri ini tidak akan pernaqh rela amien rais utk menjadi presiden.

Editor Blog said:

Mas ada mistype tuh di artikel nya "manusia berkulitas tinggi". Maksudnya manusia dengan kualitas kulit yang tinggi? (Nggak tau malu? hehehehe)

enda said:

hehe makasih dah dibenerin skrg

PEMILUCU said:

Siapa Bilang Amien-Siswono sudah kalah.. wong perhitungan belum selesai dan btw menurut perhitungan sementara dari tim Arsis, dari suara yang masuk per tgl 9 Juli 2004, jam 0700 wib sebesar 57,651,537 sbb : Wiranto 19.30% , Mega 24.78%, Amein 20.88%, Sby 31.85%, Haz 3.19%. -- Jelas sangat jauh dari hasil di KPU dan sangat mungkin melihat angka2 tsb Amien masuk ke putaran ke 2.
Sebagai contoh Untuk Jakarat Pusat saja ada perbedaan sekitar 60,000 suara antara hasil KPU dan penghitungan tim Arsis.. yang hasilnya akan di publikasikan dalam press conference besok-- JANGANLAH KITA TERLENA DAN DIBOHONGI OLEH POLITISI BUSUK YANG HANYA TUJUANNYA MERAMPOK NEGARA INI... KARENA SIAPAPUN YG MENANG, SBY, WIR ATAU MEGA.. TETAP YANG AKAN BERJAYA ADALAH TW SI RAJA JUDI.

enda said:

iya kita tunggu deh press conferencenya ya

Mulyono said:

Ok. Mari kita tunggu kelanjutannya, aku sih tetap berharap Pak Amien bisa maju ke babak II. Berdoa aja yuk. Semoga

dipos said:

Sedikit comment pribadi:

Pemilu hanyalah sebuah program pemerintah agar kita mempercayai pemerintah. Memilih presidan adalah pernyataan dari seorang budak yang mencari tuan; Pemilu lah yang membuat perbedaan antara 'the oppressed and the oppressor'.

mertha said:

Meskipun saya sangat kecewa karena Pak Ammien ngga terpilih,bahkan saya sangat terkejut beliau tidak masuk 3 besar.Ya ampun,bisa ngga sih rakyat berpikir lebih baik dan lebih indenpendent.Mudah-mudahan aja presiden terpilih bisa lebih baik.Sungguh saya sangat sedih sekali.Pak Amien terus sumbangkan pemikiran bapak untuk kami,untuk negara Indonesia yang sudah bobrok ini.

mertha said:

Amien yang terbaikkkkkk!!!!!!!!

enda said:

kasihan ya rakyat, dibego-begoin terus :(

darik detik.com: "Amien Kalah Bukti Masyarakat Belum Rasional" http://tinyurl.com/2l75s

Ini diucapkan oleh pengamat politik Mochtar Pabottingi, cuma kalimat lengkapnya sebenernya: ..hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia belum bisa menentukan pilihannya secara rasional..

Nah itu sebenernya lumayan netral, dasar detik.com aja bikin headline-nya tendensius.

HLO said:

... era AR sudah lewat ! Jangan bernostalgialah ... khan yang milih AR barusan khan rakyat RI juga, masyarakat reformasinya AR. Oleh sebab itu bersikaplah jantan dan legowo untuk mengakui kekalahan dan memberikan kesempatan kepada yang di-legitimate oleh rakyat RI untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. AR hanyalah salah satu sekerup dalam roda pembangunan bangsa ini ... !

mel said:

hidup siswono :D

tolo said:

anggap aja balik ke era orba, mari berjuang di lsm dan di masyarakat, sekalian kita bersihkan dan perkuat dpr biar kebal kuropsi dan jadi controlnya presiden

saya cuma mau bilang bahwa anda jangan keburu ge-er dengan merasa semua tulisan anda di blog anda sudah bagus dan menyentuh. sama sekali TIDAK. tulisan anda hanya tulisan kelas pasaran setaraf level widi yatmanto penulis editorial majalah Gatra. Tersentuhkah Anda membaca tulisan widi di Gatra? kalo iya berarti anda dan dia samasama meanggap diri sudah bijsaksana dan sudah mampu membuat orang lain tersentuh. heh.

dodoldodol said:

coba belajar menulis artikel dengan bahasa yang lebih baik, ok. anda bisa belajar dari tulisan-tulisan gunawan muhammad dari TEMPO.

a said:

"manusia indonesia belum cukup pintar untuk memilih anda, pak amien" ???????
dari ucapan ini bisa kita tarik kemungkinan 2 makna:
1. penulis ingin bernegosiasi/beramahtamah dengan pendukung amien.
2. penulis terlalu subyektif (merasa diri paling pintar kalo milih amin dan langsung mencap org indo goblok kalo milih yg lain).

Kalau saya jadi amien rais saya akan segera berkaca dan menyadari bahwa wajah saya mirip tikus got karena itulah orang indonesia memilih sby yang lebih ganteng :)

enda said:

hehe dah ada yg ngomongin tulisannya skrg, seneng2x, berarti tulisannya dibaca, abis biasanya pendukung capres suka syusyah pake otak, emosiii mulu hkehekkhe :p

TomboAti said:

"Walau Tuhan belum mentaqdirkan kejujuran memimpin bangsa ini,
jasa-jasa dan keteladanmu tetap jadi panutan kami.
- Terima kasih Pak Amien Rais-"

basuki said:

ehm... kenapa Tomboati menyatakan "walau Tuhan belum mentaqdirkan... dst" ?
apakah kita tahu Tuhan sudah atau belum mentaqdirkan???
apakah kita tahu ??
apakah kita tahu kejujuran = pak amien rais?? siapa yg dapat menjamin?? kita sama-sama manusia... jangan membuat vonis gitu lah... *bukannya saya buruk sangka... tapi sebagai manusia... apakah kita bisa membandingkan kejujuran sesama manusia... dan menyatakan seseorang lebih jujur daripada seseorang yang lainnya??

Jajang said:

Ah malas mikirin capres-capresan. Presiden nggak ngaruh... lebih ngaruh siapa yang bakalan jadi gubernur atau walikota. DUKUNG PILKADA LANGSUNG OLEH RAKYAT!!. So siapapun capres yg lolos ke putaran II dan MENDUKUNG PILKADA LANGSUNG pasti saya COBLOS!!!

Gunawan Mohamad said:

Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah

Oleh Goenawan Mohamad

Di kotak suara saya pilih Amien Rais dan Siswono. Saya tahu akan
sulit sekali mereka akan menang.

Ada yang bertanya: kenapa? Jawab saya: Karena saya tahu mereka berdua
tak pernah hidup dari uang sogok, dan karena mereka peka terhadap
keadaan orang miskin.

Tanya: Tidakkah yang lain begitu juga?

Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu.

Beberapa teman mencela Amien dan Siswono dan mencoba menunjukkan
bahwa pilihan saya salah. Baiklah. Tapi bukankah memilih dalam sebuah
pemilu mengandung asumsi bahwa kita memang bisa salah? Bukankah itu
sebabnya secara periodik kita menilai kembali tepatkah pilihan kita
sendiri?

Pemilu adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada harapan
untuk memperoleh seorang pemimpin yang terbaik, tapi harapan itu
sendiri diam-diam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam
pemilu orang yang memberikan suara adalah orang yang siap kecewa dan
orang yang dipilih adalah orang yang siap dibatasi. Demokrasi yakin
manusia bisa berbuat baik, tapi tahu ada cacat dalam dirinya.

Tanya: Anda memaklumkan diri berpihak kepada salah satu calon. Di
mana independensi anda sebagai seorang budayawan? Apa gunanya?

Jawab (setelah menjelaskan bahwa saya tak paham apa itu
arti `budayawan'): Pertama, independensi habis jika tindakan saya
diatur orang lain. Dalam memilih Amin-Siswono, saya tak dikendalikan
oleh kekuatan manapun.

Kedua, independensi hilang kalau saya teken kontrak akan mendukung
seseorang atau sesuatu sampai mati.

Ketiga, lebih baik menentukan sikap secara terbuka, hingga orang
tahu `bias' saya dalam mengemukakan pendapat.

Keempat, dalam masa ketika lembaga demokrasi masih harus dikukuhkan,
saya ingin aktif menyatakan, bahwa memilih dan memihak itu bukan
sesuatu yang nista dan kotor. `Budayawan,' apapun artinya kata yang
aneh itu, bukanlah brahmana.
Tapi memang, pada setiap pemihakan ada tesirat kehilangan. Setiap
pemihakan adalah bagian dari apa yang dalam kata-kata Reinhold
Niebuhr sebagai `tugas murung politik'. Sebab ada yang tersingkir di
sana, yakni kebersamaan yang inklusif. Masalahnya kemudian adalah
bagaimana mengatur pemihakan itu Ada tantangan tempat dan waktu.
Memihak tak berarti memihak dengan sikap yang tertutup dan statis.

Saya kira itulah yang terjadi pada pemilihan 2004. Berjuta orang
menunjukkan pemihakan yang terbuka dan dinamis. Mereka independen.
Mereka mencoblos partai X dalam pemilihan April, tapi tak selamanya
mengikuti partai itu dalam hal memilih calon presiden.

`Orde Baru' hendak membuat rakyat sebagai `massa yang mengambang,'
yang tak terpaku pada satu partai karena ikatan `primordial' – dan
untuk itu kebebasan rakyat untuk berpolitik dihilangkan Di tahun 2004
rakyat Indonesia membuktikan diri sebagai `massa yang mengambang'
justru karena bebas berpolitik.

Semakin deras hasil hitungan suara, semakin tampak Amien Rais dan
Siswono tak akan mendapatkan kans untuk masuk ke putaran kedua. Saya
sedih.

Beberapa orang di Tim Sukses mengubah rasa kecewa jadi marah, dan
berbicara soal `kecurangan'. Mereka menunjuk: Lihat, Bung, KPU kalang
kabut!

Saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Tapi KPU memang bukan tauladan
manajemen yang baik. Setahu saya tak seorang di antara para
anggotanya berpengalaman mengelola sebuah organisasi yang kompleks
yang dituntut untuk menyusun satu jaringan perencanaan, guna
menghasilkan berbagai `produk' sekaligus.

Tak akan mengejutkan bila nanti ditemukan sesuatu yang tak beres di
sana. Setidaknya dalam penghitungan suara, KPU adalah salah satu
contoh yang sering terjadi di Indonesia: `salah-urus'.


Seandainya KPU diisi seorang mantan eksekutif bidang industri, atau
mantan pemimpin proyek pembangunan, atau mantan kepala staf angkatan
bersenjata – dan bukan hanya dosen dan aktivis yang umumnya dahsyat
dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja –hasilnya pasti
akan lain.

Untunglah, masih ada tenaga di masyarakat yang mengoreksi apa yang
kacau balau. Seorang teman bercerita bahwa panitia setempat-lah yang
ambil inisiatif mengatur hal yang diabaikan KPU. Misalnya ada panitia
setempat dengan cepat memutuskan, sebelum KPU tergopoh mengoreksi,
bahwa kertas suara yang tembus dicoblos adalah kertas suara yang sah.
Rakyat, (artinya kita), bisa salah. Tapi ada saat-saat ketika dari
kancah interaksi dengan orang lain tumbuh kearifan.

Beda antara panitia lokal dan KPU terletak dalam interaksi itu. Dari
awal sampai akhir, panitia lokal, para saksi dan para tetangga di
sekitar TPS berangkat dengan menyadari adanya kepentingan yang
berbeda. Bahkan perbedaan kepentingan adalah alasan dasarnya. Maka
ada usaha keras untuk saling mengontrol, agar cara kerja terbuka dan
tak berat sebelah. Juga ada usaha untuk tak membuat bentrok dan
keruwetan, terutama karena mereka umumnya hidup berdekatan.

Sebaliknya, KPU tak bertolak dari asumsi perbedaan kepentingan itu
dalam dirinya. Saya tak tahu bagaimana lembaga ini mengontrol cara
kerjanya sendiri. Yang saya tahu: orang bisa menunjuk dengan
mudah, `Lihat, Bung, KPU kalang kabut!'

Aneh juga saya sedih bahwa Amien-Siswono kalah – walaupun sejak mula
saya tak tinggi berharap. Mungkin karena dalam tiap kekalahan ada
yang disalahkan.
Tapi apa arti kalah, sebenarnya? Ada kalah yang tak perlu membuat
diri malu, terutama bila kita tahu siapa yang menang. Dan jika ada
yang sudah menang dalam pemilihan ini tampaknya itu bukan partai,
bukan tokoh. `Yang menang demokrasi,' jawab seorang perempuan muda di
Yogya ketika wartawan BBC bertanya.

Seandainya diucapkan dalam pidato seorang aktivis, kalimat itu akan
terasa klise. Tapi dari mulut seorang yang tak biasa bicara politik,
ia membawa gema yang panjang, setidaknya di hati saya.
Mungkin karena ia benar. Pada suatu hari saya dengar seorang ibu
rumah tangga berkata kepada temannya, `Sekarang enak, kita bebas
ngomong'.

Ia seorang warga keturunan Cina yang, seperti hampir semua keturunan
Cina, di masa `Orde Baru' dipandang dengan curiga bila ikut serta
bicara, apalagi aktif, dalam politik. Kini perempuan itu, juga para
tetangganya, ikut bergiat, bergairah, dan merasakan diri sebagai
anggota dari negeri tempat mereka lahir dan menutup mata.
Ada keberanian lain. Hampir tak ada sopir taksi, pelayan restoran,
tukang pijit, tukang batu, buruh pabrik, yang ragu menyatakan calon
pilihan mereka atau partai yang mereka anut. Dengan cepat itu mereka
utarakan, tanpa gentar akan kehilangan kerja atau pelanggan, tanpa
rikuh untuk berbeda pilihan dengan si penanya..

Agaknya mereka sadar, bahwa dari merekalah datangnya suara. Mereka
tahu, di kotak di TPS itu, tiap kepala adalah sebuah angka yang
penting. Bu Iyah, tukang pijit itu, akan dihitung sama dengan
penghuni rumah di ujung sana, Pak Fauzi Bowo, seorang wakil gubernur.
Tentu, teori tentang demokrasi sudah banyak bicara tentang ini. Tapi
kini yang saya saksikan bukan teori. Yang saya saksikan adalah orang-
orang di lapis bawah yang (setidaknya untuk beberapa hari), merasa
punya kekuatan buat bicara `ya' atau `tidak' kepada orang yang
mengetuk hati mereka, meminta mandat dari mereka.

Ini setidaknya berlaku di tahun 2004. Saya tak tahu bagaimana kelak.
Kini ada semacam campur-aduk yang asyik, ketika kekuatan ekonomi,
politik dan media masih belum dikonsentrasikan di satu dua tangan,
bahkan belum menunjukkan satu dua pola yang begitu berkuasa. Jika
kelak keadaan jadi seperti itu, demokrasi pun akan kalah, hanya
tinggal bentuk.
Pemilihan presiden 2004 adalah sebuah gabungan yang masih memikat --
gabungan antusiasme sebuah demokrasi baru dan sikap skeptis sebuah
demokrasi yang mulai kecewa.

Konon sekitar 80% dari pemilih yang terdaftar datang mencoblos. Tapi
ada yang mengatakan, jumlah `golput' bertambah. Bagi saya kedua
tendensi itu sama-sama menggembirakan.

Sebab ada empat jenis `golput'. Ada `golput keruh', yang tak pergi ke
TPS karena bingung, kekurangan informasi. Ada `golput jenuh', yang
tak mau lagi memikirkan politik, karena sudah puas dengan keadaan
atau juga sebaliknya, karena putus asa. Ada `golput angkuh', yang
merasa diri begitu suci dan luhur hingga harus berada di atas semua
pihak.

Tapi ada `golput' yang merupakan isyarat yang penting dan berguna
bagi para politisi: sebagai sebuah aksi politik, sebuah protes
terhadap penyelenggaraan pemilu dan perilaku para politisi. Ini
sebuah suara yang menuntut perbaikan. Ini `golput ampuh'.

Sebagai seorang yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada
kemenangan lain dalam pemilihan presiden ini, setidaknya pada putaran
pertama. Yang juga menang adalah sebuah komunitas yang
bernama `Indonesia'.

Jika kita baca angka, ternyata orang memilih seorang calon bukan
karena suku dan asal usulnya. Sampai 6 Juli malam, pasangan SBY-
Kalla, (asal Jawa dan asal Sulawesi Selatan), menang di 16 propinsi.
Tak ada pekik `Hidup putra daerah!'.

Dan yang pasti tak ada ukuran jender: Megawati, satu-satunya
perempuan dalam persaingan ini, masih didukung luas. Dan sementara
kehidupan agama Islam tetap marak, di negeri Muslim terbesar di dunia
ini orang bisa mengatakan, `Islam' tak memeluk lututnya sendiri.

Maka haruskah saya terus murung? Saya pandangi gambar para pemilih
2004. Tiba-tiba saya tergerak setengah menirukan sajak Sapardi Djoko
Damono, berbisik `Biarkan aku banggakan kau, bangsaku, dengan cara
yang sederhana'.

jna said:

kalau saya amien rais, saya akan berbuat sesuatu sewaktu 5 tahun menduduki kursi ketua MPR. Berbuat sesuatu yang bisa dilihat oleh orang-orang, di tempat dimana mentari sore memeluk bukit sebelah sana...

asik said:

kaciaaaaaan deh lu?????!!!!

udin said:

Kalau saya jadi Amien Rais, saya akan mengadakan konperensi pers segera malam ini juga sambil berkata demikian:

"Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Pada hari ini, saya dengan penuh bangga mengaku kalah pada putaran pertama Pilpres ini. 15% suara rakyat yang mendukung saya akan sangat saya hargai karena hal itu merupakan bentuk dukungan nyata dari mereka yang menginginkan perubahan. Tetapi, ijinkan saya untuk melangkah surut kebelakang, sebab lima tahun lagi mungkin saya sudah terlalu tua untuk mengadu nyali menjadi Capres lagi. Selamat tinggal pendukungku, berikan suara Anda kepada Capres yang sesuai dengan hati nuranimu. Jangan Golput. sekali lagi jangan Golput.... karena Golput hanyalah menjadikan kita sebagai pecundang yang ditertawakan oleh banyak orang.

Saudara-saudaraku, pilihlah Ibu Megawati kembali menjadi Presiden bersama pak Hasyim Muzadi. Jangan dukung SBY.... karena dulu dia pernah menampik pinangan saya untuk menjadi Cawapres..... coba dulu dia mau jadi Cawapres saya, kan saya yang sekarang jadi nomor satu..... hik hik hik nasib....nasib... awas kamu SBY..!!!

Bunga said:

Orang nomor satu di Indonesia bukanlah seorang presiden yang terpilih dalam pemilu tetapi dia yang berhasil membawa Indonesia ke penghidupan yang lebih baik...rakyat indonesia sedang belajar berdemokrasi..seperti anak kecil yang sedang belajar jangan dimarahi kalo mereka melakukan kesalahan..tapi beri support hingga mereka tetap mau belajar...memperjuangkan kebenaran dan kejujuran emang butuh pengorbanan, seperti sobatku saat ini yang ada di rutan salemba hanya gara2 'menyentil' KPU untuk lebih jujur dan memperbaiki situsnya yang bisa merugikan rakyat secara tidak langsung...kapan orang Indonesia bisa menerima kritik dengan berlapang dada...(btw, Enda itu cowok ato cewek?)

Rakyat pinggiran said:

Kalo sy Amien Rais maka kekalahan ini adalah pengalaman berharga. Bahwa pintar belum tentu cerdas. Banyak dukungan tapi hanya sebatas ucapan. Bahwa tidak semua yang pintar bicara adalah pintar dalam berbuat. The last but not least bahwa Diam itu adalah Emas!!
masih ada th 2009
Wassalam!

Wong Susah said:

Koq diam itu emas, diam itu berarti nggak ngomong.

bunga said:

sometimes silence is gold but to much silences is stupid, you know!

ivo said:

gue pernah terlibat tanya jawab ini:

tanya: demokrasi artinya apa sih?

jawab: artinya, suara terbanyak yang menang

tanya: gimana kalau nantinya suara terbanyak pingin korupsi tetap ada di indonesia?

jawab: ya berarti kita hidup di negara koruptor. negara maling.

tanya: gimana kalau suara terbanyak nanti pingin kalau sebuah agama tertentu dihilangkan?

jawab: ya berarti kita tinggal di negara SARA.

tanya: gimana kalau suara terbanyak nanti pingin minoritas tertentu dihabisi?

jawab: wah, pertanyaanmu menjurus! :) itu sudah bukan demokrasi lagi. siapapun pemenang pemilu, harusnya hak minoritas tetap dijaga. di amerika kan pemenang pemilu ndak lantas mengebiri hak-hak kaum minoritas toh? nah, gimana dengan indonesia? coba bandingkan sendiri...

catatan: comment ini mungkin tidak ada hubungannya sama postingnya si enda, but i just wanna share with you =)

gadis said:

Berangkali Amin Rais dilahirkan sebagai Mahatma nya Indonesia.

akhmad ghozali said:

Saya adalah salah satu dari sekian juta masyarakat indonesia yang kecewa akan hasil pemilu kemarin. Namun bagaimanapun kita harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa masyarakat indonesia belum cukup mampu untuk memilih seorang pemimpin yang baik. Rakyat masih lebih memilih seorang "artis" ketimbang negarawan yang sholeh, bersih, jujur, cerdas, dan berani. Mungkin ini adalah cobaan bagi bangsa indonesia. Mungkin pula ini adalah azab yang Allah timpakan kepada bangsa ini. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Kita harus sadar bahwa figur yang baik tapi kurang dikenal oleh rakyat tidak akan dipilih oleh rakyat sebalinya figur yang kurang baik tapi "difanatiki" alias mendapat simpati rakyat, maka akan dipilih. Saya khawatir jangan-jangan seandainya MAWAR-AFI mencalonkan diri sebagai calon presiden kemarin maka ia yang akan menempati peringkat pertama pada hasil pemilu presiden 5 juli yang lalu. Semoga ini tidak terjadi lagi di Pemilu Presiden Mendatang. AMIEN

adhitya said:

membaca komentar negatif ttg website ini, saya jadi teringat kisah Howard stern, penyiar kontorversial di US.
people who love him listen to him for 2 hrs because they want to know what he says next. People who hates him listen to him for 4 hours because...they even more want to know what he says next.

akhmad ghozali said:

(Sekedar menambahkan + Curhat)
Saya mendengar berita, bahwa ketika hasil pemilu telah sampai ke KPU (kurang dari 50%) dan melihat keunggulan calon yang lain, sebenarnya Pak AMIEN RAIS telah mendapat firasat bahwa dirinya akan kalah. Karena itu beliau sebenarnya telah mempersiapkan diri untuk memberikan pidato kekalahannya kepada masyarakat. Namun tim sukses beliau menyarankan agar tidak terburu-buru untuk "MELEMPAR HANDUK". Karena itu beliau pun menangguhkan pidato kekalahannya. Saya sendiri tidak tahu apa berita ini benar atau tidak yang jelas seandainya berita itu benar. Maka saya semakin yakin bahwa bangsa ini mengalami "KERUGIAN" yang besar karena telah kehilangan salah satu calon pemimpin yang berjiwa "BESAR" seperti AMIEN RAIS. Saya ragu dan sangsi kalo pada pemilu putaran kedua ini, saya akan ikut memberikan hak suara saya. Karena dari kedua calon yang ada tidak memenuhi kriteria yang saya inginkan. Bahkan cenderung bertolak belakang. Karena itu hingga saat ini pemikiran yang paling dominan dalam benak saya adalah memilih "GOLPUT". Saya takut jika saya memilih pemimpin yang salah maka saya akan dimintai pertanggungan jawab atas pilihan saya di hari pengadilan nanti. Saya menyangsikan kedua calon presiden yang masuk keputaran kedua ini mampu mengemban amanah rakyat dengan baik dan ikhlas. Saya sangsi kalo kedua calon presiden tersebut mampu memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia. Dan saya sangsi dengan "Akhlak" dan "Pemahaman" kedua calon presiden ini dipandang dari sisi agama mereka yakni "ISLAM". Karena itu saya pikir tidaklah salah jika saya memutuskan untuk memilih GOLPUT dipemilu putaran yang kedua nanti. Namun demikian saya berdoa semoga Anda dapat memberikan pilihan Anda secara baik dan sesuai dengan hati nurani Anda dan berdasarkan Rasionalitas yang tinggi.

Reza said:

Wah tulisan mas enda ini sudah tersebar lewat email ternyata. Tapi sayangnya dimis-representasikan sebagai 'Surat dari Amien Rais' ...

Hery Santoso said:

GM dan Andi Rodick
(Buat GM)

Orang kalah pasti sedih. Dan biasanya juga kecewa. Tapi rupanya itu saja belum cukup. Maka tak heran kalau kemudian kita menyaksikan orang kalah yang kesal, dan kemudian berusaha menghibur diri. Semacam mencari pembenaran.

Itulah yang bisa saya tangkap dari tulisan GM di catatan pinggir Tempo edisi terakhir. GM, dalam tulisannya menegaskan, dirinya bukanlah sejenis die hard AR. Kalau toh di pemilu kemarin dia nyoblos AR, semata-mata karena perhitungan rasional seorang manusia, yang tentu saja mengandung 2 kemungkinan: benar dan salah. "Itulah mengapa demokrasi meminta kita untuk terus melakukan evaluasi terhadap pilihan kita sendiri secara periodik", demikian tuturnya.

Boleh saja dia bertutur demikian, akan tetapi kalau menyimak "Dari Buku Notes Seorang yang Kalah" itu, kita tak bisa memungkiri bahwa dia sedang melantunkan sebuah lagu murung, ibarat seorang sinden yang berusaha mencapai nada tertentu, demi menghadirkan suasana megatruh, tembang Jawa yang berkisah tentang kematian. Di sana-sini dia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dia kemudian menghibur diri dengan menyatakan: tak ada tokoh yang menang, karena sebenarnya yang menang adalah demokrasi.

Kemarin saya membaca tulisan Syafii Maarif di Republika. Nadanya tak jauh berbeda dengan tulisan GM. Bahkan dia mengutip sejumlah nama besar, untuk tidak mengatakan elit intelektual Indonesia, seperti Anwar Makarim, Goenawan Mohamad, dan Rosihan Anwar, yang konon mereka semua adalah pemilih cerdas negeri ini yang kecewa oleh kekalahan AR. Bahkan dia menambahkan, saking kecewanya, rencananya pada putaran kedua Rosihan Anwar akan golput.

Beberapa hari yang lalu, kalau tak salah hanya sehari setelah pemilu usai, saya juga membaca tulisan orang yang pernah tinggal di Perancis - sory saya lupa namanya -, yang mengungkapkan kepedihannya begitu menyaksikan AR gagal. Dia selanjutnya menyatakan, meskipun kalah, mantan pimpinan pusat Muhamadiyah itu adalah suritauladan bangsa.

Mungkin dalam hari-hari mendatang kita masih akan sering menjumpai tulisan-tulisan yang senada: meletakkan para capres - tidak hanya AR - sebagai subyek politik, jika tidak mau menyebut meletakkan masyarakat Indonesia, terutama kalangan akar rumputnya, sebagai obyek politik. Pandangan seperti ini boleh-boleh saja, sah-sah saja. Toh masyarakat juga tak ada yang protes. Tapi menurut saya, ada ironi yang begitu getir. Orang-orang yang selama ini saya hormati karena dedikasinya pada demokrasi, sadar ataupun tidak, rupanya tengah berusaha mendudukkan elit politiknya masing-masing sebagai suatu determinan yang sangat menentukan. Sebaliknya rakyat yang notabene adalah subyek demokrasi menjadi tak terhitung, kecuali pada saat hari H pencoblosan.

Saya kira mengapa AR kalah harus disikapi secara fair, bahwa sebagian besar rakyat Indonesia ingin sosok yang lain - meski saya sebagai salah seorang WNI justru menginginkan dia yang jadi presiden. Kekalahan itu tidak bisa dibaca an sich dari kacamata klise: bahwa rakyat masih bodoh, tidak cerdas, tidak rasional, pragmatis dan lain sebagainya. Apalagi dilihat dari kaca mata kuda yang cenderung menuding sana-sini. Barangkali di sana memang ada kekacauan, di sini ada kekotoran, dan di situ ada - meminjam istilah GM - kekalang-kabutan. Tapi secara keseluruhan, saya kira, pemilu yang baru saja kita jalani jauh lebih bersih dan baik dibandingkan dengan pemilu orde baru. Buktinya orang seperti GM berani menyatakan yang menang adalah demokrasi.

Maka bagi saya, kekalahan AR, Wiranto, Mega, - sory Hamzah tak terhitung - dan kemenangan SBY; adalah sinyal dari rakyat. "Inilah sikap kami, rakyat Indonesia", demikian kira-kira kalau saya boleh memverbalkannya. Apapun pilihan rakyat, atas nama demokrasi, itu harus kita nyatakan sebagai sebuah kecerdasan, yang nilainya tidak lebih rendah dari kecerdasan GM, Rosihan Anwar, Syafii Maarif, atau siapapun - barangkali inilah kelebihan demokrasi memandang setara antara dosen dengan tukang becak.

Pada akhirnya GM memang benar, yang menang adalah demokrasi. Yang menang adalah rakyat Indonesia. Tapi catatan saya, semoga saja dia menyatakan itu bukan karena AR kalah. Kita menyatakan itu karena memang rakyat adalah subyek demokrasi. Siapapun pilihan rakyat kita harus menghormati, dan sekaligus meletakkannya sebagai sebuah kekuatan demokrasi itu sendiri.

Atas dasar itu, sebagai warga negara biasa, saya lebih suka kalau GM dan orang-orang yang saya hormati itu melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan Andi Rodick pada Roger Frederer di Wimbledon kemarin: mengucapkan selamat pada sang pemenang.


HS

Ade_gtb said:

Pertarungan politik tak ubahnya kancah pertarungan sepak bola. Anda lihat saja EURO 2004 kemaren, tim-tim yang diprediksi akan unggul, justru bertumbangan. Tim sekaliber jerman, spanyol, italia, bahkan kandas dibabak-babak awal. Begitu pula dengan pemilu putaran pertama ini. AR yang diharapkan maju keputaran kedua, ternyata kandas. Seperti halnya sepakbola, usai pertandingan semua berubah menjadi komentator. Yang kalah menyalahkan wasit yg un-fair, pelatih yg salah strategi, dsb. Tak ubahnya dengan situasi kita ditanah air sekarang pasca pemilu putaran pertama. Komentar yang sama juga muncul sebagai luapan atas kekalahan jagoannya. Muncul istilah yang sama, un-fair alias kecurangan, dsbnya. Mengutip kata-kata Mas Hery "Barangkali di sana memang ada kekacauan, di sini ada kekotoran, dan di situ ada - meminjam istilah GM - kekalang-kabutan". Tapi lihat pulalah pesta demokrasi ini secara keseluruhan, bukankah ini adalah pemilu yang terbaik sepanjang orde baru. Apapun hasilnya, kita tetap harus mengancungkan tangan buat rakyat. Terlepas dari apa motivasi yang mendorong mereka memilih, satu hal yang pasti--rakyat berani menyatakan sikapnya. Kekalahan adalah suatu hal yang wajar dalam pertandingan, pertanyaannya adalah Apakah kita bisa menegakkan kepala dan turut bergembira seperti supporter Portugal yang merayakan kemenangan bersama supporter Yunani?

syarif said:

Buat Herry S. & Ade GTB
Salut atas komentar berbobotnya!!!
Semoga aja teman-teman lain bisa belajar banyak dari komentar anda!!

MarineLiner said:

46. | 16:41 on 18 July 2004 | by Ade_gtb
Pertarungan politik tak ubahnya kancah pertarungan sepak bola.
. . . . .
Tapi ....., bukankah ini adalah pemilu yang terbaik sepanjang orde baru.
Apapun hasilnya, kita tetap harus mengancungkan tangan buat rakyat.
. . . . .
Kekalahan adalah suatu hal yang wajar dalam pertandingan, .....
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bedanya: "kalau sepak bola, tak akan mempengaruhi kehidupan kita 5 tahun mendatang".
Jadi kalau dalam 5 tahun mendatang kehidupan rakyat tidak bertambah baik, maka kita tanggung bersama, baik yg.sudah milih dgn.hati2 tapi kalah, maupun yg.asal "nyoblos aja" tapi menang.
Allahu a'lam wa bishshowab.

ech_03 said:

Menanggapi tulisannya mas Hery dan Ade_gtb. Memang betul, bahwa seharusnya kita mengangkat kepala dan berjalan bersama si pemenang. Analogi tentang sepak bola saya pikir bisa mewakili kondisi sekarang. Mungkin betul jika sepak bola tidak mempengaruhi hidup 5 tahun kedepan, tapi saya pikir apa yg dikemukakan dalam tulisan ini adalah bahwa kita tetap harus optimis walau apa yg kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Dan juga, dalam sepakbola para suporter memilih timnya berdasarkan pertimbangan, skill pemain, strategi main dilapangan, pola main, dsbnya, dan tentu juga nggak asal pilih.

Begitu halnya dengan pesta demokrasi, Pesta demokrasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi si A yang tamat SD dan bekerja sebagai buruh batu, pemilu berarti pilih presiden yang bisa nurunin harga dan memberantas kemiskinan. Berbeda dengan si A yang sopir angkot, mungkin bagi dia asal harga BBM nggak naek lagi, anaknya dapet sekolah gratis, dsb. Berbeda dengan si C yang aktivis parpol, yang punya misi tertentu seandainya calonnya "goal". Dan berbagai pemikiran di tiap2 kepala rakyat indonesia.

Memang nantinya suara terbanyaklah yang akan menang, dan yang akan membawa kemana arah bangsa ini. Tapi, bukan berarti bahwa si kalah tersingkir, makanya saya sangat setuju dengan tulisan mas hery dan ade_gtb, bahwa kita harus berjalan bersama si pemenang. Optimis menuju arah yang lebih baik dan mendukung perbaikan.

MarineLiner said:

49. | 16:50 on 19 July 2004 | by ech_03
makanya saya sangat setuju dengan tulisan mas hery dan ade_gtb, bahwa kita harus berjalan bersama si pemenang. Optimis menuju arah yang lebih baik dan mendukung perbaikan.
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
dan mudah2an, "si pemenang" jalannya benar, supaya yg."jalan bersama" pun tidak terlantar.

MarineLiner said:

47. | 10:41 on 19 July 2004 | by syarif

Buat Herry S. & Ade GTB
Salut atas komentar berbobotnya!!!
Semoga aja teman-teman lain bisa belajar banyak dari komentar anda!!
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
saya sepakat dengan komentar diatas 100%. mari kita bersikap sportip. yang kalah ngaku kalah yang menang tidak usah sombong. saya akan mendukung mega dan sby di putaran ke 2 nanti.
Allahu a'lam wa bishshowab.

Joko Suprio said:

Nggak seru ah kalau banyak bahasa bunga dan ngadem2in (nggak setuju juga dg provokasi), bahasa jujur2 aja. Setuju dengan komentar, Pak Amien kalah karena ada yg nggak rela beliau memimpin. NO DOUBT, Pak Amien is the Leader, even not to be a President at the moment. Next...who knows?? I expect.

Bondan Winarno said:

To Joko Suprio:
...Pak Amien kalah karena ada yg nggak rela beliau memimpin.. Tepat sekali, banyak yang ga rela Amien Rais jadi pemimpin, sekitar 100 juta rakyat Indonesia yg tidak mencoblos AR-SYS

Joko Suprio said:

To bondan winarno: Salut untuk Gunawan "Sang Pena" Muhamad yang sanggup memberikan wacana dan esensi bagi kekalahan dan kemenangan dengan arif dan mengena pada bidang horisontal demokrasi di negara kita, mudah2an ada pena-pena yang lain dengan memberikan pembelajaran pada orang yang kurang mampu (seperti saya) mengejawantahkan persoalan pelik negeri ini dan tidak dengan cara "smart-light" polemik yg tidak nyambung....??

Hery Santoso said:

Buat Mas Joko Suprio
Setahu saya Mas Bondan sedang mengajukan fakta yang tak bisa dipungkiri, bahwa Pak AR nyatanya tidak kehendaki oleh sebagian besar rakyatIndonesia, minimal untuk memimpin negeri ini 5 tahun ke depan. Tapi kenapa sampeyan justru menjawabnya dengan menyatakan GM adalah "Sang Pena". Jadinya ya Jaka Sembung bawa golok.

herlambang said:

oalah,pak amin...pak amin..nasibmu..nasibmu..semoga pendukungmu tetap setia amiiin..amiiin..raiis,raiis...

phia said:

yup memang betul Pa Amien RAis telah kalah dalam pemilu 2004 kemarin but emang benar kok alasannya karena bangsa Indonesia belum memakai rasionya dalam memilih seorang pemimpin, mereka terlalu bodoh, emangnya kecakepan bisa jadi tolak ukur menjadi seorang presiden, hah....ga penting bgt tau!gw mo ngomentarin org yg bilang Ar mukanya kya tikus got. mendingan punya muka kya tikus got tapi mempunyai otak yang brilian+jenius, jujur. dari pada punya tampang cakep tapi setara otaknya dengan artis dangdut.. ha ha ha ha ga penting bgt gitu lho!klo mo yg cakep dah aza pilih cover boy aza presidennya udah pst cakep.lagian jg SBY ga cakep lg mata lo yg jereng aja kegenitan yg bilang SBY cakep, segitu di bilang cakep msh 1000000000000000000000000000000000000000000000000x lebih jauh gantengnya di banding Yupiter.....lihat dong skrg makin gila aja kondisi di Indonesia anda2 tidak berfikir apa, sekian banyak peristiwa yang melanda Indonesia semenjak pemerintahan SBY. Wallahu'alam memang tapi sedikit saja kita gunakan firasat kita bukan rasionalitas kita. dalam 100 hari pemerintahan SBY banyak bencana2 melanda bangsa ini gempa nabire, jatuhnya pesawat Lion Air, jatuhnya pesawat TNI yang sedang melaksanakan di jalan tol akibat presiden lewat gitu lho! baru pertama kejadian di Indonesia, presiden lewat aza udah bikin suatu bencana. apa tak terfikir ada apa di balik ini semua???? apakah Tuhan memberikan suatu gambaran pada kita bahwa SBY adalah orang......... ditambah lagi bencana terbesar yang melanda negri ini yaitu Gempa bumi dan gelombang Tsunami yang menimpa Aceh. belum lagi gempa yang melanda PAlu, gempa di Lumajang JAwa Timur. gila bener. ada apa dengan SBY?????

About this Entry

This page contains a single entry by enda published on July 8, 2004 12:32 PM.

Indonesian Election di Media massa luar negri was the previous entry in this blog.

Antara SBY dan Megawati is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01