Janji-Janji Menteri

| | Comments (11)
Yusril Ihza Mahendra
Dibawah ini adalah catatan JANJI-JANJI para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang baru, yang dicatat dan bersumber dari Tempo Interaktif (menurut kabar, karena saya menerimanya dari milis).

Lumayan berguna agar nanti kita bisa kembali melihat apakah janji-janji mereka (walau tidak semua menteri) terlaksana atau tidak.

JAKSA AGUNG, Abdul Rahman Saleh
Saya akan menuntaskan kasus-kasus besar korupsi, termasuk yang sudah dihentikan Jaksa Agung sebelumnya, MA Rahman. Saya juga akan membentuk tim khusus untuk memburu para koruptor.

Koruptor beware!

MENKO PEREKONOMIAN, Aburizal Bakrie
Kita akan mengembangkan pertanian, membuat kebijakan energi yang efisien, dan strategi industri berdasarkan lapangan kerja dan ekspor.

MENNEG BUMN, Sugiharto
Saya akan melakukan pembenahan di tubuh BUMN dan mengevaluasi kebijakan menteri yang lama. Saya juga akan memberantas KKN.

Para KKN-ers beware!

MENAKERTRANS, Fahmi Idris
Saya akan membentuk tim khusus untuk menangani pemulangan sekitar 700 ribu TKI ilegal dari Malaysia.

TKI siap-siap pulang?

MENTERI KEUANGAN, Yusuf Anwar
Saya yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus membaik. Ini harapan banyak pihak. Apalagi, sentimen pasar terhadap presiden terpilih sangat baik.

MENDIKNAS, Bambang Sudibyo
Saya akan berupaya menaikkan anggaran pendidikan 2005 dua kali lipat dari yang sudah diusulkan pada RAPBN, yakni Rp 20,1 triliun.

Menkeu beware! Uangnya mau diminta mantan menkeu!

MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, Meutia Hatta
Saya jengkel dengan maraknya tayangan sinetron di TV yang menjatuhkan harkat dan martabat perempuan. Saya akan membuat langkah politis untuk mengatasi itu.

Ram Punjabi beware!

MENTERI HUKUM DAN HAM, Hamid Awaluddin
Masalah imigrasi menjadi prioritas saya. Antara lain adalah soal larinya sejumlah orang bermasalah yang sebenarnya sudah dicekal. Juga, kasus pemalsuan paspor pada pengiriman tenaga kerja.

MENTERI PERTANIAN, Anton Apriantono
Membangun sektor pertanian ke depan berarti menyejahterakan petani, peternak, pekebun, dan petani kecil lainnya. Jadi, tidak semata-mata peningkatan produksi yang dikejar. Yang lebih penting, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Tapi om Yusril yang paling keren, ini sih bukan janji tapi NGELES! :)

MENTERI SEKRETARIS NEGARA, Yusril Ihza Mahendra
Ini kabinet presidentil, kami tidak punya program kerja. Program kerja itu program presiden. Jangan berpikir parlementer. Kalau parlementer, menteri ditanya programnya. Kalau presidentil kan menteri membantu presiden.

11 Comments

fantaorenz said:

mungkin agak berbeda janjinya orang yang TELAH terpilih dengan janji orang AGAR terpilih, k.l.a.n (kita lihat aja nanti)

cempluk said:

Pak Mentri Fahmi Idris,
Ini janji bapak setelah jadi mentri kan ???. Sedang Janji adalah hutang lho pak.
Ini pak coba bapak perintahkan orang/bawahan bapak atau saya akan lebil hormat/senang/bangga / salut/menghargai/yakin bila bapak sudi turun sendiri melihat operasi TERMINAL 3 ( TIGA ) di Bandara SUKARNO-HATTA
mOHON DAPAT DITINJAU ULANG DG KEBERADAAN TERMINAL III ( TIGA )
Karena disanalah tempat pemerasan dengan kedok menolong urus TKW?TKI,banyak sudah kejadian yang menjijikan dari pada oknum terminal 3, Kalo dapat bubarkan saja pak , biar tak ada lagi pemerasan terkordinir apa mungkin ini memang dapat restu dari Mentri terdahulu yang kemungkinan semua dapat bagian ? Saya TKW yang kegetulan dah pulang cuti 2 kali dan ternyata irama yang sama harys saya tempuh karena terpaksa atau dipaksa oleh penjaga yang mana harus masuk terminal tiga, padahal saya dapat pulang sendiri tanpa bantuan oknum terminal 3.
Biarlah TKW cepat sampai kerumah dan bebas menentukan jalan mana yg mahu ditempuh , kalau alasan khawati penjahat / penipu ya penjahatnya saja dihabisi atau dikarungi saja atau minta adwis dari SBY yang bekas Jendral/ABRI. Gimana caranya menhapuskan Penjahat.kalau pendapat saya salah - coba gimana yang benar agar negara kita aman/damai/sejahtera bebas dari penjahat pencopet/penodong / perampok dll.

piko said:

Pesan saya buat bapak Mendagri tolong cepat tuntaskan masalah-masalah yang terjadi dalam pelaksanaan otonomi daerah,karena banyak kepala daerah yang banyak salah mengartikan hakikat otonomi daerah itu,masih perlu banyak di buat peraturan pemerintah yang mengatur UU no.17 tahun 2004 tersebut

fitra said:

Assalamualaikum wr.wb
saya cuman ingin menyampaikan salam kenal buat bapak Mendagri,karena tak kenal maka tak sayang,bolehkah saya berfoto berdua ama bapak?,buat kenang-kenangan bila telah kembali mengabdi di daerah.

ulil said:

ehm..nda yakin ma KIB buatan SBY,byk titipan yang ada dan menteri yg nda kapable..jd buat apa bikin janji?janji is utang man..mendagri,siapa tuh?nda da record ttg dia yg bs nyelesain masalah otoda dan pemekaran wilayah di Indonesia man,ato krn dia meliter trus dipilh ma SBY?hrsnya pak sudi(Sekkab) yg cucok jd mendagri..kedua Jaksa Agung,da tua gitu mo lawan koruptor yang ganas?ehm dia lum pernah ditampar 10M kali ma Ginandjar,hahahaha..so gw nda yakin ma nih Kabinet Orkestra..ada sih macam Sri Nulyani,Mari E,tp bs apa mrk?pengamat lum tentu bagus dalam implementasi,mrk hanya pandai teori tp praktek?nol..jgn cuma janji aja neh kabinet,juz inget janji is utang and klo nda kelar tar balesannya di akherat,hihihi..

A'an said:

wajar saja diawal jabatan mereka para Menteri mengucapkan janji, karena kalau tidak disanggka "gagu" dong :D. persoalannya adalah isi janjinya itu lho..? isinya sering dan hampir selalu "diatas angin", tidak berangkat dari kenyataan real yang dihadapi/rasakan langsung rakyat. saya juga memahami kenapa janjinya harus abstrak.., ya biar nanti kalau tidak berhasil dan tidak ada hasil nyatanya bisa diretorika, khan tinggal mengundang seorang pengamat yang "pro"fessional dan intelek untuk menjustifikasi keruwetan permasalahan. sementara akar permasalahan tidak disentuh-sentuh. sebagai contoh kecil adalah memberantas korupsi ditingkat bawah yaitu pada praktek percaloan distasiun KA, bisa tidak memberantas itu. memberantas calo tiket aja tidak mampu bagaimana mau membongkar kasus korupsi trilyunan.
menanggapi mas cempluk mengenai TIGA saya sependapat dengan mas. intansi pelayanan masyarakat memang buobbrOOOOxct. no money no serve (waduh ngeri banget).
sebaiknya para menteri nih kalau memang kerjanya ingin langsung dapat dirasakan oleh rakyat luas khususnya menengah kebawah, sebaiknya program kerja mereka harus langsung yang bersentuhan dengan pelayanan publik. rakyat tidak butuh yang mengawang-awang diatas awan. konkret saja. gitu aja deh pak menteri.

Riri said:

klo gw mah gak mau su'udzon ama pr menteri KIB (pamali, lg Puasa *_*) mending berpositif thinking aja, Indonesia kan baru beberapa tahun ini blajar demokrasi, klo anak kecil mah lagi lucu2 nya...klo blom apa-apa udah gak dipercaya duluan, bisa ngambek n' gak bakal maju2 malah, mendingan kita support aja, klo orang berani berjanjikan berarti emang ada kemauan untuk melakukan itu, masalah terealisasi ato gak, yah KLAN (kita liat aja nanti..hi fantaorenz @_*) but, klo ada menteri yang berjanji naikin UMR, baru deh gw catet tebel2, n' then gw tunjukin ke boss gw hehehehehe. anyway, Congratz for all KBI's Minister ...wish you will do your best for Indonesia..BRAVO!

balq said:

MENPORA, Adhyaksa Dault : Janji dateng jam 2 buka semiloka eh baru nongol jam 4 lewat. huhuhu.. Ajudannya bilang do'i KETIDURAN. Ya oloh pak.. Abis Olahraga di tempat tidur yeh..? tsk.. tsk.. tsk..

rendy said:

tolong untuk menteri yang baru...tolong untuk KBk di pikirkan lagi karena cukup susah untuk dipahami karena siswa dituntut untuk mencari solusinya sendiri dan belajar sendiri.......Kalau tidak mengerti bahan yang akan di presentasikan mau di apain lagi???????!!!!!!!!!!!...tolong sekali lagi hapus KBK dan kembali ke kurikulum yang lama saja.....kurikulum yang lama saya dapat lebih mudah menangkap dan belajar.....TOLONG.......

Lasahidoman said:

Kisah Biru Buku Heboh Janji SBY-JK

Belakangan ini penerbit kita banyak disoroti. Benarkah mereka bersikap alergi terhadap buku2 tertentu? Ini perlu kita diskusikan. Berikut saya kutipkan kisah 'perjuangan' yang dialami buku "Janji-janji dan Komitmen SBY-JK, Menabur Kata Menanti Bukti" sebelum berhasil diterbitkan dan meledak di pasaran.

Kisah ini saya kutip dengan izin dari:
http://www.geocities.com/janjisbyjk/kisah.html

Surat Dari Penulis
KISAH BIRU: ADA APA, SIH? KOK, SEMUA PADA NOLAK?

Waktu ditawarkan ke penerbit, banyak penerbit yang menolak. Saat menulis surat pembaca ke media cetak untuk mencari mitra penerbit, banyak media cetak bahkan takut memuat surat pembacanya. Setelah mengalami berbagai penolakan, buku itu akhirnya berhasil diterbitkan dan meledak di pasaran. Sekarang ia mencari mitra untuk mengadakan acara dialog buku tersebut dengan tema "Setelah 100 Hari Pemerintahan SBY-JK". Ada yang berani jadi penyelenggara? Lalu mengapa kisah ini disebutnya kisah biru? Berikut kisahnya:

Duhai, Best Seller!
Buku saya "Janji-janji dan Komitmen SBY-JK, Menabur Kata Menanti Bukti" ternyata amat laris (dari laporan yang saya terima, buku tersebut menduduki peringkat pertama penjualan di hampir semua toko buku terkemuka di Indonesia. ceillehh...!). Padahal, keberadaan buku tersebut belum pernah diiklankan secara terbuka di media cetak, televisi, atau radio manapun. Juga belum pernah diadakan acara promosi semacam peluncuran buku atau sejenisnya sebagaimana buku-buku lainnya.

Karena penasaran, saya pun turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei kecil-kecilan. Beberapa toko buku di Jakarta yang sempat saya kunjungi liburan kemarin (tentu saja saya nggak sempat mengunjungi semua toko buku) menempatkan buku tersebut di tempat yang paling diidam-idamkan oleh semua penulis buku "Best Seller". Bahkan di Gramedia Matraman Jakarta, toko buku terbesar di Indonesia, buku tesebut dengan gagahnya menduduki singgasana itu. Saya bilang singgasana, karena buku lokal yang bisa mendapat predikat itu di toko buku tersebut jumlahnya amatlah minim. Selain buku saya, ada juga buku fiksi berjudul Supernova, juga buku tentang tumbuhan yang bisa mengobati HIV (saya lupa judulnya), dan satu buku lokal lainnya (nggak ingat judulnya dan nggak sempat baca dalamnya). Yang banyak adalah buku-buku terjemahan (sekitar 10 judul).

Kok, Alergi?
Buat saya, predikat "best seller" amatlah luar biasa mengingat buku tersebut belum cukup dua minggu beredar. Saya jadi teringat saat-saat sebelum buku itu diterbitkan. Sebenarnya, sebelum selesai ditulis, sudah ada penerbit terkemuka yang bersedia menerbitkannya (buku saya lainnya diterbitkan oleh penerbit ini). Tapi begitu buku selesai ditulis dan melihat isinya, mereka jadi kehilangan nyali. Mereka tak menyangka saya bisa merekam semua janji SBY-JK dan fakta nyata dengan begitu lengkapnya. Lagipula selama ini kan belum pernah ada di Indonesia (bahkan di dunia) buku yang merekam dengan jelas janji-janji seorang politikus, apalagi seorang calon Presiden dan Wakil Presiden yang kemudian terpilih. 

Penerbit lain yang juga saya tawarkan (juga penerbit yang akan menerbitkan buku saya lainnya) tiba-tiba tampak seperti kehilangan nafsu. Mereka mengatakan "Oke" tapi dengan suara rendah dan ludah tertahan di tenggorokan. Bagi saya, ini artinya mereka setuju tapi dengan terpaksa dan tidak pasti kapan akan menerbitkannya. Saya malah jadi kasihan pada mereka. 

Saya sendiri tak tahu mengapa orang-orang jadi pada alergi menerbitkan buku itu. Padahal berulang-ulang saya katakan, buku ini tak punya pretensi politik apapun. Saya bukanlah orang politik dan bukan orang partai apapun dan manapun. Apalagi sekarang kan kita hidup di alam demokrasi. Malah SBY-JK sendiri dalam berbagai forum berulang-ulang meminta agar mereka dikritik. Mengapa? Ya, supaya mereka tahu sudah sejauh mana mereka melangkah dan sudah sejauh mana mereka belum melangkah. Kok, kita semua jadi pada takut, jadi pada banci sih? 

Buku ini bukanlah buku kritikan, tapi punya tujuan yang sama. Isinya adalah janji dilengkapi fakta dan data di Indonesia saat mereka mengucapkan janji. SBY-JK jika sempat membacanya pun saya yakin pasti senang. Dengan adanya buku ini mereka akan terbantu untuk mengingat apa-apa saja yang sudah mereka janjikan (soalnya, boss-boss kita kalau bikin janji kan biasanya suka lupa) dan apa aja yang tidak mereka janjikan. Jangan sampai mereka sudah bersusah memenuhi janji, rakyat malah menganggap mereka tidak memenuhi janji karena rakyat sendiri tidak memahami apa yang dijanjikan kepada mereka.

Berikut cuplikan obrolan saya dengan penerbit (yang berhubungan dengan kata hati penerbit adalah imajinasi saya):
"Emang enak kalau janji-janji dibukukan?" kata hati si penerbit.
"Kalau janji asmara dibukukan, emang nggak enak. Tapi kalau janji politik, enaklah,"jawab saya.
"Ya, nggak enak dong buat yang bikin janji. Kan bahaya! Apalagi kamu kan bukan dari partai politik yang sedang berkuasa," kata hati si pernerbit yang masih menggunakan cara berpikir jaman Orba.
"Ya, itu tergantung tujuan awal si pembuat janji," kata saya nggak mau kalah, "Kalau dari awal tujuannya adalah memenuhi janji, ya pasti enaklah. Tapi kalau tujuannya nggak memenuhi janji, ya nggak enaklah."
"Hmmm...enaknya di kamu, tapi bahaya di saya. Kalau buku proyek dari Bank Dunia saya mau deh. Enaknya di saya, dan ruginya di kamu dan rakyat. Hehehe..." timpal hati penerbit. Ia kemudian cuma diam dan hanya bisa mengangguk dengan tatapan kosong entah apa yang sedang dia pikirkan.

Wah, jadi kayak cerpen. Tapi selanjutnya, setelah itu saya berpikir untuk menerbitkannya sendiri. Kenapa tidak? Selama ini saya sudah menulis dan menerbitkan sendiri 41 (empat puluh satu) judul buku direktori bisnis, dan 3 judul buku musik (ini hobi sampingan saya). Dan semuanya laku dijual bahkan di pasar luar negeri. Tapi setelah saya instropeksi diri (ceilehhh..!), saya ternyata belum berpengalaman dalam menerbitkan buku untuk dikonsumsi masyarakat umum. Dengan kata lain, saya belum begitu menguasai jalur-jalur pemasaran di dalam negeri. Ya, mau tidak mau saya harus mencari penerbit lain.

Bejibun SMS & Telepon
Maka mulailah saya berjuang dengan mengirimkan penawaran melalui faks dan email ke berbagai penerbit. Dari 10 penerbit, hanya dua yang antusias dan bersedia langsung menerbitkannya dalam waktu dekat, tiga akan pikir-pikir dulu, sementara sisanya bahkan untuk menjawab saja nggak berani. Tapi saya belum langsung menjawab karena sebelumnya saya sudah terlanjur mengirim surat pembaca ke beberapa media cetak. Di sini juga saya tak habis pikir. Dari sembilan surat pembaca yang saya kirim untuk mencari mitra penerbit buku tersebut, hanya dua yang berani memuatnya. Yakni, Tabloid Kontan dan Harian Bisnis Indonesia, dua media yang menjadi favorit saya selama ini.

Begitu surat pembaca dimuat, saya menerima bejibun telepon dan SMS dari pembaca (maklum, dalam surat pembaca saya sertakan nomor hape saya). Semuanya berisi dukungan dan kesediaan untuk menerbitkan. Bahkan ada yang langsung berniat membeli hak cipta buku tersebut dengan angka berapa saja, tapi bukan untuk diterbitkan melainkan untuk dimusnahkan (hehehe...yang ini mungkin dari kelompok atau partai tertentu).

Hanya butuh dua hari, saya akhirnya berhasil memilih satu penerbit yang saya anggap track record-nya selama ini sangat baik. Yakni, Penerbit Media Pressindo Yogyakarta. Dan benar sesuai janji, hanya sekitar 2 minggu kemudian buku tersebut sudah beredar di pasaran. Sungguh luar biasa.

Nah, sekarang saya tantang Anda. Setelah buku tersebut sukses di pasaran, saya mencari siapa saja baik perorangan maupun kelompok atau organisasi yang bersedia atau lebih tepat yang "berani" untuk menjadi penyelenggara diskusi atau dialog mengenai buku tersebut, baik di Jakarta maupun luar Jakarta. Tentu saja dengan menghadirkan pembicara terkenal di negeri ini. Temanya, terserah penyelenggara. Misalnya, "Evaluasi Janji SBY-JK Setelah 100 hari Pemerintahan" (barusan saya diminta nulis oleh Jurnal Madani PB HMI dengan tema sejenis) atau "janji di Sana, Janji di Sini. Akhirnya ditagih Sana Sini" (hehehehe...). Ada yang berani? Kalau ada, Anda bisa mengontak saya di email: rudypontoh@yahoo.com. 

O,ya, kisah ini saya sebut kisah biru karena waktu menulisnya saya menggunakan kacamata dengan lensa biru penahan terik matahari. Huruf-huruf yang tampak semuanya jadi biru. Bener, deh. Kalau nggak percaya, coba deh buktikan. Kalau Anda membacanya sambil menggunakan kacamata berlensa ungu, Anda bisa merubah judulnya menjadi Kisah Ungu. Terserah...suka-suka Anda-lah ! Ini kan jamannya perubahan! 

Salam,

Rudy S. Pontoh
Penulis Buku Janji-janji dan Komitmen SBY-JK
=========================
Demikianlah saya kutipkan. Bagaimana menurut Anda?

danny said:

karena gak lolos ET 3 % dalam pemilu 2004, PBB rencana mo ganti nama menjadi PBB sejahtera, siapa tau bisa sukses kayak PK menjadi PK sejahtera. Ini sih gak masalah. Gimana kalo PDS ikut2an jadi PDS sejahtera. Repot tuh kan jadi Partai Damai Sejahtera Sejahtera?

About this Entry

This page contains a single entry by enda published on October 23, 2004 4:05 PM.

Kabinet Orkestra was the previous entry in this blog.

9 Instruksi Presiden SBY pada seluruh Gubernur is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01