GolPut dan GolTam

| | Comments (3)

Dalam masa - masa kampanya menjelang pemilu, biasanya sepanjang jalan menuju kampus gw, banyak banget poster" partai (dan waktu era pemilu tahap satu poster" calon DPD) ditempel di tembok - tembok. Mungkin karena daerah Kebon Sirih itu deket dengan komplek kantor" pemerintah, atau apalah gw juga ga tau.

Cuma, belakangan ini banyak poster" lain yang ditempel. Itupun kalo bisa disebut poster, soalnya bentuknya cuma ketikan di kertas HVS yang kemudian diperbanyak. Poster - poster itu nggak mengatasnamakan partai atau golongan atau pribadi tertentu, tapi tanpa nama. Cuma dalam salah satu poster mereka (atau dia?) menyebut dirinya Golongan Putih.
Beberapa isi posternya seperti ini:

Kalau Lewat Depan Gw Melengos Aja!! diletakkan di sebelah poster partai dengan gambar capresnya

Sratus Ribu Sehari? Lumayaaaan

Seratus Ribu Doang? Udah Gitu Palsu Pula!! Bah!!!

yang ini agak panjang..
A: Pokoknya aku nggak Milih
B: Kenapa?
A: Nggak mau. Aku Golput aja
B: Kamu nggak perduli akan nasib bangsamu?
A: Apa bangsa ini perduli akan nasibku?

Yang terakhir itu yang bikin gw kesel banget. Kenapa orang itu seolah - olah menempatkan BANGSA sebagai suatu pribadi? Sadar nggak sih kalo BANGSA itu bisa terjadi kalau ada sekumpulan orang yang menjadi rakyatnya? Bahkan JFK pernah ngomong Jangan tanya apa yang diberikan negaramu untuk kamu, tapi tanyakanlah apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu.

Gw selalu berusaha menghormati pilihan dan keputusan orang lain. Karna itu gw rada" sebel sama orang yang sok mempengaruhi orang lain untuk ikut dengan pilihan dan keputusannya. Terserah deh kalo pada mau golput. Tapi kenapa sih musti menghujat kayak gitu? Jadi berasa kayak GolTam (Golongan Hitam) tau nggak sih.

Hmm... gini deh... kalo golput, berarti kan tidak mempergunakan haknya untuk memilih dengan benar... Jadi... boleh dong gw ngomong kalo nggak milih ga berhak protes kalo pemerintahan nanti ga sesuai harapan mereka?

3 Comments

dodi said:

link ke vanya-nya kurang satu tuh hurup w-nya. jadi ww.unbeli...com. anyway, mungkin kita peduli terhadap nasib bangsa. jadi tak tepat kalau si A bilang "Apa bangsa ini perduli akan nasibku?". soalnya yang tak perduli akan nasib si A itu adalah NEGARA ini. pemerintahan ini. legislatif2 itu. rasanya, kita boleh2 aja bilang negara ini brengsek. tapi kalo kita bilang bangsa ini brengsek, itu berarti merendahkan martabat sendiri juga. lho, jadi tak ngomongin golputnya, nih gw..

goklas said:

kalo dibilang "ga berhak protes kalo pemerintahan nanti ga sesuai harapan mereka?" mungkin benar. apa yang mereka harapkan kalau tidak milih ? kalo aku siy, protes karena pajak yang aku bayar ilang entah kemana sama yang dipilih itu...

asmudi sutoto said:

saya cuma menghimbau, hidup kita saat ini merupakan amanah dari Allah swt dan salah satu tugas kita adalah ikut partisipasi memperbaiki keadaan negara walaupun hanya sekecil biji zarah dan yakinlah jika anda tidak golput dan menjatuhkan pilihan kepada calon pres yang amanah, tidak korup, dan mempunyai komitmen terhadap perbaikan bangsa ini, maka tindakan anda tsb pasti akan dicatat sebagai ibadah yang akan memdapatkan pahala besar dari ALLAH SWT. Barang kali ini juga merupakan apa yang dapat anda berikan kepada negara dimana anda berpijak dan makan dari hasil buminya. Yakinlah teman bahwa suatu kelak nanti negara kita akan lebih unggul dari negara manapun.

About this Entry

This page contains a single entry by published on May 9, 2004 3:11 PM.

Cawapres Megawati: Hasyim Muzadi was the previous entry in this blog.

Presiden Indonesia versi Google.com is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01