Demokrasi tanpa penantang

| | Comments (15)

Media di Indonesia selama dua minggu terakhir marak dengan berita mengenai upaya "merapatkan barisan" dari dua pasang calon presiden dan wakil presiden (yang bukan Golkar) yang akan maju ke putaran kedua pemilihan presiden pada September dengan partai Golkar, sang pemenang pemilu legislatif.

Dalam politik, koalisi sah saja. Tidak ada kawan atau lawan, kepentingan politik membenarkan cara mencapai tujuan.

Dengan menggandeng partai pemilik kursi terbanyak di DPR (bukannya ingin mengurangi arti Dewan Perwakilan Daerah), bisa dipastikan pemangku kekuasaan eksekutif mendatang bisa melalui lima tahun pertama mereka dengan mulus tanpa kritik, tanpa tekanan dari rakyat melalui wakil-wakil terpilih.

Ada juga partai yang menolak terlibat dengan upaya-upaya koalisi, para anggota bersikukuh untuk tidak menggunakan hak pilih dan menjadi oposan. Menggembirakan. Tetapi lebih terdengar seperti jeritan barisan sakit hati ketimbang keteguhan menegakkan prinsip demokrasi.

Massa mengambang, teman-teman se-Tanah Air yang skeptis dengan siapa pun yang menjadi pemerintah, mungkin tidak akan terpengaruh oleh kasak-kusuk seputar koalisi. Asal saja. Asal masih bisa makan cukup, asal masih bisa berdagang di kakilima, asal ....

"Toh kita sering tidak merasa punya pemerintah. Memang kita punya (pemerintah) waktu Malaysia mendera dan mengusir pulang pencari kerja di sana? Apa kita punya pemerintah waktu saya mendapat kesulitan memperoleh pinjaman bank untuk modal usaha rumahan saya? Apa hak saya sebagai warga negara terlindungi ketika saya harus menjadi anak jalanan dan tidak mendapat pendidikan yang layak?"

Tetapi, bagi mereka yang memilih secara langsung wakil-wakil mereka di DPR dan pasangan presiden dan wakil presiden yang mereka yakini bisa menampung aspirasi mereka, koalisi adalah tamparan keras bagi pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat.

I chose you, not you and them.

Mungkin kita memang tidak membutuhkan pemerintah, atau kabinet pelangi yang lain dimana partai-partai ingin satu atau dua tempat strategis di pemerintahan. Mungkin kita memang hanya membutuhkan satu sistem demokrasi yang memberi ruang kepada kelompok-kelompok masyarakat yang berjuang sendiri untuk akses kepada ekonomi yang lebih baik, kebijakan nasional yang berpihak kepada kepentingan orang banyak, makan lebih kenyang dan tidur lebih nyenyak. Itu pun dengan catatan: tanpa eksekutif yang paranoid.

Demokrasi muda ini sedang mendewasa dan butuh penantang untuk membuktikan seberapa kuat dia bisa bertahan.

15 Comments

enda said:

hmm menarik, apakah koalisi = pengkhianatan? harusnya ada terms and condition saat kita mencoblos ya. saat kita memilih A, A harus memperingatkan, "Awas lho saya mkn berkoalisi dengan pihak lain" hehe.

soca said:

Hehe, boleh aja koalisi. Lebur partai juga monggo. Cuma, apa dong bedanya dengan pemilu selama orde baru?

enda said:

mkn pertanyaan dasarnya adalah ada ga perbedaan platform ideologi antara masing2x pihak (partai/capres)? kalo di US kan jelas, liberal vs konservatif, nah dua itu ga mkn koalisi. kalo di indonesia blum mengerucut kayaknya ya, dari kondisi skrg kayaknya bakal mengarah ke kerucut ideologi agamis atau nasionalis (sekular)

ninik said:

Pernahkah Pemerintah menanyakan ,"Hai rakyat, apakah kamu punya uang untuk bayar anak-anakmu sekolah??","Hai rakyat, apakah kamu punya beras untuk makan keluargamu?", "Hai sarjana, punyakah pekerjaan untuk merangkai masa depan hidupmu?", "Hai rakyat, sudah terjaminkah rasa keamanan dan keadilan hidupmu?".Pernahkah????
"Jangan tanyakan apa yang telah engkau berikan kepada NEGARA, Tapi tanyakan apa yang telah engkau berikan kepada NEGARA". inikah jawaban yang rakyat inginkan??? atau....

Mau milih SBY? Baca dulu ini:

http://english.aljazeera.net/NR/exeres/27D48C6A-C906-4C90-A62B-5E92187B91EE.htm

http://www.bens.org/sw_ar080803.htm

"I love the United States, with all its faults. I consider it my second country", Susilo Bambang Yudhoyono.

Siapapun Presidennya, Amerika lah tuannya.

Sususudio said:

Jadi harus milih sapa mas? Harus milih Megawati lagi? Keledai aja ga jatuh ke lobang yg sama dua kali.

GOLSAR said:

Namun yang jatuh ke lubang yang sama berkali-kali itu lebih bodoh dari keledai. Saya kira yg dikirimin si staneley weis itu memang cukup malu-maluin dan ada benarnya.

Dulu saya (dikit) simpati ama SBY, eh ternyata... Yo wis, bagi saya sih 22nya sami mawon... coblos aja 22nya, lha udah pasti kita jadi hambanya amerika jeh...

Keledai said:

Kalau mau Golput beli cat putih yang banyak biar jelas.Pilih yang berani bilang tidak sama Amerika tentu Megawati dong........

susudio said:

sapa bilang megawati berani bilang tidak sama amerika? huehuehe

Keledai said:

Gue yang bilang......
Coba tanya sama AU yang kebagian Sukhoi.....oi.ooi..ooooi... pada lupa ingatnya sama jenderal tamatan Fort de America

Kala P said:

Pemerintah Dinilai Sukses Bangun Pondasi Ekonomi
Tanggal: Tuesday, 03 August 2004
03 Agustus 2004 - Kalangan pengusaha mengakui selama tiga tahun ini pemerintahan MEgawati berhasil membangun pondasi ekonomi nasional kuat yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Untuk ke depan, presiden terpilih tingal melanjutkan ke arah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia Aburizal Bakrie dan Ketua Umum Kadin Indonesia Moh MS Hidayat usai mendengarkan paparan ekonomi dari Presiden Megawati yang juga Capres PDI-P pada Dialog Pemulihan Ekonomi yang diselenggarakan oleh Kadin Indonesia, kemarin. Pada kesempatan itu Presiden Megawati hanya didampingi oleh Meneg BUMN Laksamana Sukardi dan Menperindag Rini Soewandi.

Moch Hidayat usai dialog mengaku sangat "surprised" karena Presiden Megawati bersedia menjawab semua pertanyaan yang diajukan lima panelis. Pertanyaan yang diajukan mulai masalah reformasi perpajakan, masalah penegakan hukum, investasi hingga ke masalah perkembangan dan arah pembangunan industri Indonesia ke depan. "Terus terang saya surprised melihat beliau mau menjawab semua pertanyaan yang diajukan" kata Moch Hidayat yang berulang kali menegaskan Kadin sebagai satu lembaga tidak memihak kepada salah satu Capres.

Aburizal Bakrie juga mengatakan paparan ekonomi yang disampaikan merupakan satu keberhasilan pemerintahan Megawati dalam bidang ekonomi. Sekarang masalahnya, kata Ical - panggilan akrab Aburizal Bakrie - perlu dicari cara yang ampuh pleh pemerintah terpilih mendatang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat lagi. "Memang pemerintah berhasil melakukan stabilisasi walau agak terlambat," kata Ical.

Megawati dalam paparannya secara umum mengungkapkan berbagai upaya yang telah dicapai oleh pemerintah dalam bidang ekonomi. Pada awal pernyataannya, Megawati mengajak semua pihak agar melihat masalah ekonomi tidak sepotong-sepotong. tapi menyeluruh secara kronologis mulai dari tahun 1997 saat Indonesia terpuruk hingga tahun 2004 ini.

Pada tahun 1997 hingga 2001, jelas Megawati, Indonesia berada dalam periode krisis di segala sektor kehidupan. Pada saat itu, kata Megawati, posisinya sebagai Wapres, sedangkan Presiden dijabat oleh Abdurrahman Wahid. Kemudian, antara tahun 2001-2004, yang disebutnya sebagai periode stabilisasi, pemerintah berhasil membangun kepercayaan investor, menstabilkan nilai rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus meningkat dan inflasi dapat dijaga. "Jadi selama memimpin pemerintahan, saya berhasil membangun ekonomi makro yang menjadi dasar untuk menuju periode pertumbuhan," kata MEgawati.

Menjawab usulan tentang perpajakan yang selama ini dianggap kurang menarik bagi investor asing sehingga harus segera direformasi, Presiden Megawati kembali mengingatkan bahwa selama tiga tahun ini, Indonesia masih berada dalam tahap stabilisasi. Untuk periode itu, sangat sulit bagi pemerintah melakukan reformasi perpajakan, karena membutuhkan danan untuk APBN. "Kalau soal keadilan dalam perpajakan saya sangat setuju dilakukan dalam periode pertumbuhan nanti," kata Megawati.

Ketika Ical usul agar pemerintah memperhatikan pembangunan infrastruktur hingga 10 tahun ke depan, Megawati mengatakan usul itu sangat baik dan sebenarnya sebagian sudah dilakukan saat ini. Misalkan, tiga tahun lalu banyak jalan dan jembatan rusak dan kini sudah diperbaiki. Begitu juga dengan tersendatnya pembangunan jalan tol kini sudah dapat dilanjutkan lagi. "Kalau tadi Pak Ical bilang apakah pemerintah mendatang bisa menyiapkan dana Rp 45 triliun per tahun untuk membangun infrastruktur, saya sih mau, cuma kan tergantung kepada anggaran," kata presiden.

Dalam periode pertumbuhan, jelasnya Megawati, masalah penyediaan lapangan kerja menjadi prioritas utama, sehingga jumlah penganggur tidak semakin besar. Dengan kondisi ekonomi makro yang membaik, situasi keamanan yang terjamin dan suksesnya penyelenggaraan pemilu presiden dan legislatif, Capres dari PDI-P ini sangat meyakini investor asing maupun lokal akan semakin banyak menanamkan modalnya di Indonesia. "Kalau investasi bertambah maka lapangan kerja pun bertambah, sehingga PHK dapat dihentikan," katanya seraya mengajak dunia usaha dan pemerintah agar mempunyai persepsi yang sama melihat perkembangan perekonomian nasional pasca reformasi. (Sumber: HarianMerdeka)

tyo said:

sipil pilih sipil ? why not ? toh mungkin diantara mereka berdua belum ada yang cocok ada di hati kita sebagai rakyat. Tapi kita juga harus ingat, setidaknya keberhasilan pemerintahan megawati (mungkin bukan megawati secara individu) yang paling mendasar adalah "kemerdekaan pers" yang bahkan berkesan menjadi bumerang, soalnya sekarang jangankan guru besar ilmu politik, tukang bakso pun bisa dan berani membahas politik, atau ada juga kadang yang membusuk busuki politikus. Coba dulu mungkin sudah berlubang tubuh kita. :D

rio said:

mengapa polisi selalu berkuasa dengan hukumnya yang selalu bertindak sewenang-wenang, apalagi dijaman megawati ini polisi sepertinya lebih berkuasa, sebaiknya pemerintah memberikan peringatan kepada anggota2 polisi untuk tidak bertindak semaunya, mungkin saja di jaman SBY-KALLA ini Indonesia menjadi lebih maju, terbebas dari KKN, aman dan tentram. amin

ahmad said:

Indonesia mrpkan negara terkaya dengan sumber daya alam yang berlimpah, mengapa indonesia tidak bisa mengolahnya sendiri ataukah terbatasnya SDM yang kurang memadai, minyak mentah saja msh diolah dinegara lain,produksi2 mobil masih saja Indonesia membeli mesinnya saja,padahal di Indonesia byk para insinyur2 yang pintar membuat mesin mobil, Indonesia merupakan negara terkorup didunia maupun asia, dulunya cina merupakan negara terkorup, sebaiknya pemerintahan SBY-KALLA sekarang lebih memperhatikan rakyat2 kecil yang ditindas oleh para koruptor, Pak SBY harus memberantas KKN dari bawah atau mencari para pejabat yg benar2 ingin memberantas KKN, banyak masyarakat Indonesia yang ingin berbuat jujur demi bangsa tercinta, pak SBY-KALLA lebih mementingkan bangsa ini drpd kepentingan pribadi, mungkin saja dengan 100 hari SBY-KALLA Indonesia pelan2 akan berubah tetapi tidak secepat yg diperkirakan.

ahmad said:

Indonesia mrpkan negara terkaya dengan sumber daya alam yang berlimpah, mengapa indonesia tidak bisa mengolahnya sendiri ataukah terbatasnya SDM yang kurang memadai, minyak mentah saja msh diolah dinegara lain,produksi2 mobil masih saja Indonesia membeli mesinnya saja,padahal di Indonesia byk para insinyur2 yang pintar membuat mesin mobil, Indonesia merupakan negara terkorup didunia maupun asia, dulunya cina merupakan negara terkorup, sebaiknya pemerintahan SBY-KALLA sekarang lebih memperhatikan rakyat2 kecil yang ditindas oleh para koruptor, Pak SBY harus memberantas KKN dari bawah atau mencari para pejabat yg benar2 ingin memberantas KKN, banyak masyarakat Indonesia yang ingin berbuat jujur demi bangsa tercinta, pak SBY-KALLA lebih mementingkan bangsa ini drpd kepentingan pribadi, mungkin saja dengan 100 hari SBY-KALLA Indonesia pelan2 akan berubah tetapi tidak secepat yg diperkirakan.

About this Entry

This page contains a single entry by published on July 30, 2004 11:25 PM.

Amien Beri Selamat kepada Mega dan SBY was the previous entry in this blog.

Laporan Blog Pemilu 2004 (Juli 2004) is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01