Calo Suara dan Suara Calo.

| | Comments (9)

Sebuah acara TV swasta kemarin malam membahas jasa calo pengerah massa kampanye dan penjual suara saat pemilu 5 April lalu. Tampil dalam bincang2, sosok wanita muda umur 23 tahun asal Surabaya yang dengan pede-nya menyebut angka 5000 suara untuk berbagai keperluan kampanye. Nomimal 5000 adalah sekedar acuan angka di luar kepentingan. Semisal perlu hanya untuk kampanye dia berani menyebut tarif hingga 2 milyar rupiah diluar atribut kampanye. Sedangkan untuk suara dalam pencoblosan pemilu tentu tarifnya lebih besar atau tergantung negosiasi harga yang bisa dinilai dari besar kecilnya parpol peminat. Dijelaskan, seorang peserta kampanye minimal akan mendapat bayaran 50 ribu rupiah plus atribut kampanya, makan dan transportasi. Sedangkan kompensasi jasa dirinya adalah 10% dari total bayaran peserta yang nantinya akan dibagi dengan 10 orang anggota tim-nya.

Hebatnya, saat kampanye kemarin ada 3 parpol besar dan 3 parpol baru yang menghubungi untuk memanfaatkan jasanya. Tapi hanya beberapa parpol yang deal tanpa menyebut jumlah dan nama parpol sebagai kode etik bisnisnya.

Bagi sang calo, segmentasi peserta juga membawa nilai jual tersendiri. Dengan berani ia menyebut golongan intelek sebagai salah satu pangsa massanya. Intelek disini diartikan sebagai mahasiswa, namun dilihat domisili tentu pemirsa akan langsung beranggapan bahwa mahasiswa Surabaya-lah yang dimaksud. Penjelasan berikutnya malah sangat mengejutkan, "Saat ini kita bicara soal uang.. Siapa sih yang tidak mau duit 50 ribu untuk tambahan uang kost.."

Pembawa acara tampaknya gigih mengorek semua informasi dengan detail, namun sayang banyak jawaban yang menggantung. Parpol pemakai jasa di asumsikan termakan gaya bicara yang meyakinkan serta mendapat bukti nyata dilapangan dari sang calo. Anehnya begitu ditanya konsekuensi jika jumlah kehadiran massa kurang dari yang dijanjikan, muncul kesan bahwa keduanya (sang calo dan wakil parpol) tidak akan saling menuntut walaupun ada kesepakatan hitam diatas putih.

Jasa calo kampanye adalah bisnis besar dan saling menguntungkan, kotor tidaknya bisnis ini sepertinya tak ada yang perduli. Tayangan ini jelas merupakan bukti nyata bagi KPU atau siapa saja yang berwenang menegakkan hukum, apalagi tercatat banyak pelanggaran dalam pemilu 2004 ini. Dagelan Politik memang lagi lagi membuat moral bangsa kita ini tercoreng.. tapi kembali ya itu tadi, siapakah yang akan perduli. Entah kapan bisa muncul pemimpin Indonesia yang Jujur dan Amanah.. Mungkin tayangan Bajaj Bajuri versi kampanye kemarin yang bisa menjawabnya.

9 Comments

enda said:

pas pemilu kmrn sebenernya gue mau jual suara, tapi ditunggu-tunggu ga ada yg nyamperin heheheh

ika said:

yah .. sama juga nih spt enda, mau nya suara gue dijual .. cuma fales sih Bal jadi gak laku deh .. :D .. daku gak ikutan nyoblos kemarin .. telad daptar euy ..

gre said:

kaya'nya sudah komen deh tadi... :)

yuang atuang said:

itulah.., indonesiaku yg dipuja-puja bangsa dg rakyatnya yg senang dipuja-puja

Yudha said:

Samapai detik2 terakhir sebelum pemilu, gue malah nungguin "serangan fajar" :)

matz said:

kotak suara di dago atas jam 4 pagi ilang hauhau hansip2 rame bok pas gwe makan indomie hehe

dee said:

kmaren juga baca2 di detik ama kompas mengenai massa yang dibayar oleh partai tertentu demi mendapat makan siang dan uang 25 ribu skali ikutan kampanye..lucu sih kadang2..tapi kok ya miris bangett..

Imponk said:

kalo ngeliat sendiri sih nggak, cuman denger2 sih iya...

matriphe said:

Heh.. faripada bingung, mending terima tuh duit.. Tapi nyoblosnya tetep sesuai hati nurani donk.. Yang jelas, aku gak nyobolos partai yang mbagi duit..

About this Entry

This page contains a single entry by published on April 7, 2004 4:05 PM.

5 Besar Sementara Perolehan Suara DPR RI was the previous entry in this blog.

PDIP Nyalip Golkar - 5 Besar Sementara Perolehan Suara DPR RI is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01