April 2004 Archives

The Big One - President Election

| | Comments (1)

partyseats.gif A FEW Muslim leaders, a housewife-turned-politician, an indicted war criminal and another, less controversial, general—the candidates for Indonesia's first-ever direct presidential election are gradually lining up.

Artikel tentang Pemilihan Presiden Indonesia di Economist, Ready for the big one









PKS yang santun

| | Comments (1)

Disaat Partai lain sibuk nyari calon Presiden atau teman berkoalisi [baca : nyari calon Wakil Presiden], Partai Keadilan Sejahtera tetap menampilkan 'permainan cantik'-nya. Sebagai partai pemenang di wilayah Jakarta, partai ini sibuk sendiri menjalankan 'asas' partainya dan memutuskan tidak mengajukan calon Presiden sendiri.

Dua hari lalu mereka mamasang iklan ucapan terima kasih di harian Kompas. Di beberapa sudut jalan Jakarta, mereka juga memasang spanduk dengan ucapan senada. Terima kasih atas dukungan anda. Doakan kami supaya tetap bersih dan peduli !. Sepertinya tidak salah kalau partai ini dijuluki partai kampus. Perilaku yang dijalankan tetap santun. Mereka memang bukan pemenang pemilu legislatif [tapi peningkatan perolehan suara mengejutkan banyak pihak]. Tapi mereka melakukan seperti apa yang disarankan orang bijak dan pemuka agama. Sekecil apapun berkat yang kau terima, tetap ucapkan terima kasih. Hmmm...bole juga....

Perolehan Kursi DPR RI

| | Comments (3)

Ngomong-ngomong itu penghitungan (perhitungan) hasil Pemilu 2004 statusnya gimana sih udah selesai atau belum? Kayaknya masih nunggu pehitungan manualnya ya

Aniwei, dari website PresidenRI.or.id didapat data yang menarik tentang perolehan kursi DPR RI dari tiap-tiap Partai dan walau data ini bisa juga kamu liat di bagian hasil penghitungan suaranya site KPU tapi ga disajikan dengan enak.

Hasilnya partai-partai peraih kursi DPR adalah seperti dibawah ini:

1. [20] Partai Golkar 133 kursi
2. [18] PDIP 108 kursi
3. [15] PKB 53 kursi
4. [ 5] PPP 57 kursi
5. [ 9] Partai Demokrat 57 kursi
6. [16] PKS 48 kursi
7. [13] PAN 50 kursi
8. [ 3] PBB 11 kursi
9. [17] PBR 13 kursi
10. [14] PKPB 2 kursi: (Lampung II, Bali)
11. [19] PDS 10 kursi
12. [10] PKPI 3 kursi: (NTT I, NTT II, Maluku)
14. [ 6] PDK 2 kursi: (Sulsel I, Sulsel II)
18. [11] PPDI 1 kursi: (NTT I)
19. [ 4] Partai Merdeka 1 kursi: (NTT I)
22. [ 7] PIB 1 kursi: (Papua)

Nah perhatiin hal-hal yang MENARIK. Partai diatas diurutkan menurut hasil perolehan SUARA yg mereka raih, tapi setelah 12 besar, justru ada Partai-Partai dengan perolah suara yg lebih besar JUSTRU tidak meraih kursi dan partai seperti PIB yg masuk no bontot 22 dalam urusan jumlah suara tapi meraih kursi (walo emang cuma 1 kursi).

Ini konsekwensi dari sistem pemilu baru yang tidak lagi murni dengan sistem proporsional.

Untuk partai-partai yg meraih cuma 1 atau dua kursi, diatas dilengkapi juga dengan keterangan dari Daerah Pemilihan mana kursi itu diraih.

Untuk Partai lain, jika kamu ingin tahu dari Daerah Pemilihan mana saja kursi mereka diraih maka keterangan lengkap dari ada di site PresidenRI.or.id

Cross-reference kan dengan informasi di Tabulasi Nasional Pemilu untuk masing-masing Daerah Pemilihan, maka kurang lebih akan kamu dapatkan nama-nama Calon Legislatif yang akan duduk di DPR RI sementara ini

Mencari Presiden Indonesia

| | Comments (9)

Ditemukan website dengan informasi tentang Pemilu dan juga Kepresidenan yang kayaknya fokusnya lebih ke arah pemilihan Presiden. Nama websitenya Presiden RI.or.id

Di site ini kamu bisa menemukan Berita & Artikel Seputar Pemilu 2004, fasilitas untuk menerima hasil pemilu melalui SMS dan yang baru ada Profil Capres dan Wapres 2004 (kalo mau konsisten harusnya Capres dan Cawapres kali yeee..)

Selain itu buat yang perlu kamu juga bisa dapatkan informasi tentang Pemilu 1999 dan Poll Capres

Lagi tentang IT dan Pemilu

|

Selain sistem Pemilunya yang baru (ada dua kali Pemilu, ada pemilihan DPD, Presiden dipilih langsung) hal baru lainnya di Pemilu kali ini adalah penggunaan IT (teknologi informasi) yang jadi sorotan tersendiri dan sasaran keluhan, kekecewaan juga pujian dari banyak pihak.

Keluar dari yang sudah terjadi dan penjelasannya, ada sebuah langkah baru dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) untuk belajar dari pengalaman tersebut.

Diselenggarakan oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwas Pemilu) sebuah workshop dengan judul Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pemilu telah terselenggara pada hari Senin, 19 April lalu.

Workshop yang dihadiri oleh 50 orang ini (dari komunitas IT, partai-partai politik dan pemantau pemilu) diadakan dengan tujuan untuk merumuskan penjelasan komprehensif tentang peran IT dalam pemilu, memetakan masalah-masalah yang muncul dan juga membuka forum untuk memberi masukan bagi TIM IT KPU.

Berita lengkap tentang workshop ini bisa dibaca di Workshop: Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pemilu

Sedang transkrip dari workshop tersebut (dalam format file doc.) bisa didapat disini Transkrip Hasil Workshop

** Keduluan Enda nich....

Seperti sudah diprediksi oleh beberapa pengamat, akhirnya Wiranto memenangkan Konvensi Partai Golkar. Mengalahkan Akbar Tandjung di pemilihan putaran kedua, Wiranto resmi menjadi Calon Presiden dari partai beringin.

Menariknya, Kompas pagi ini langsung membuat headline menarik, Wiranto-Yudhoyono Berebut Kursi Presiden. Menarik karena judul ini 'seolah' menafikan peluang calon dari partai lain.

Hal menarik lain dari fenomena ini adalah, bertarungnya dua kandidat dari satu kubu yang sama. Tentara !. Satu institusi yang dihujat jaman reformasi delapan tahun lalu. Namun, kemenangan Wiranto dan meningkatnya perolehan suara Partai Demokrat yang mengusung SBY sebagai calon Presiden mungkin bolehlah dikatakan sebagai kerinduan rakyat Indonesia akan figur militer untuk memimpin negara. Sebagaimana diketahui sejak lengsernya Pak Harto, tiga Presiden berikutnya berasal dari warga sipil.

Nah, soal militer ini layak menjadi pertanyaan lagi. Apakah SBY akan 'mengalah' dari Wiranto ? Mengingat SBY dari angkatan 1973 sementara Wiranto dari angkatan 1967. Sudah menjadi semacam tradisi, dalam beberapa kesempatan di tubuh TNI [dahulu ABRI] soal senioritas ini menjadi pertimbangan. Selain itu, apakah SBY akan 'mengalah' karena Pada saat Wiranto menjadi Panglima ABRI, beliau 'hanya' menjadi Kepala Staff Teritorial di Mabes ABRI ?

Namun diluar soal senioritas di atas, satu hal lagi yang mungkin bisa jadi obrolan kecil adalah [soal ini bolehlah percaya gak percaya] apa yang pernah populer di jaman Pak Harto dulu. Merujuk kepada ramalan Joyoboyo soal negara Indonesia. Konon katanya Indonesia akan sejahtara apabila pemimpinnya memenuhi syarat noto negoro. Menurut yang empunya cerita, kata ini merupakan suku kata terakhir dari nama-nama pemimpin Indonesia. Jadi, setelah Sukarno, Suharto, mungkinkah sekarang giliran Yudhoyono ? he...he...he....

Wiranto Calon Presiden Golkar

| | Comments (4)

Dari CNN di Former general runs for president in Indonesia

Jendral Wiranto akhirnya dipilih menjadi capres dari Partai Golkar setelah mengalahkan Akbar Tanjung yang muncul dalam posisi kedua.

Dari artikel diatas ditulis bahwa Wiranto menggambarkan dirinya sebagai decorated military veteran yang mendukung transisi demokratis Indonesia di tahun 1998 dan juga sebagai satu-satunya kandidat yang cukup kuat untuk menyatukan Indonesia.

Kalau dibandingkan dengan Akbar Tanjung, kayaknya Wiranto pilihan yang lebih lumayan buat Golkar, karena walaupun bermasalah dengan tuduhan tidak menghentikan kekerasan di Timur Timor pada tahun 1999, tapi minimal tidak tersangkut kasus KORUPSI atau tidak (belum?) dicap sebagai koruptor.

Bakal menarik pertarungan Capres pada pemilu Juli nanti karena akan ada pertarungan DUA JENDRAL yang dua-duanya dari etnis Jawa. Wiranto (WRT) vs. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Partai Demokrat. (Bakal ada perbandingan prestasi militer nih)

Hal yang mana akan tampak lebih kontras lagi jika kita bandingkan dengan capres lainnya dari PDIP, namely Megawati, yang wanita, bukan Jawa dan tidak punya pengalaman militer.

Kalau dua capres jendral diatas memainkan kartu kampanyenya dengan benar, media massa bisa terseret untuk menyoroti mereka berdua saja dan tidak memperhatikan calon yang lain.

Apakah itu akan jadi faktor yang menguntungkan atau tidak, kita tunggu tanggal mainnya.

Sumber dari Kantor berita 68H, artikel original bisa dilihat disini

SAYA DAN JUSUF KALLA SUDAH DEFINITIF

Bursa calon presiden dan wakil presiden memasuki babak baru. Tokoh Golkar Jusuf Kalla menyatakan mundur dari konvensi untuk memilih calon presiden dari partai berlambang pohon beringin itu. Seperti diperkirakan, Kalla menyatakan akan menjadi calon wakil presiden bagi Susilo Bambang Yudhoyono. Banyak yang menyebut duet ini menjadi kandidat kuat memenangkan pemilihan presiden Juli nanti. Bagaimanakah awal hubungan kedua tokoh ini terjalin? Dan apa rencana keduanya ke depan?

Simak penuturan Susilo Bambang Yudhoyono kepada reporter KBR 68H Alif Imam dan Zaky Amrullah di Hotel Dharmawangsa Jakarta, Minggu (18/4):

Berdampingnya Pak Susilo dengan Pak Jusuf Kalla ini sebagai inovasi politik yang cukup maju, tapi apa betul dipilihnya Jusuf Kalla ini bertujuan mengaet suara Golkar?

Saya tidak melihat dari aspek itu. Ya untuk berhasil menjadi Presiden terpilih itu syaratnya tentu harus berhasil membentuk kabinet pemerintahan yang tahan selama lima tahun dan kemudian diakhir masa jabatannya kabinet itu harus berhasil. Saya sangat mengenal Pak Jusuf Kalla karena satu kolega di kabinet. Saya mengenal betul kelebihannya, kemampuannya, dan dalam banyak hal kami bekerja sama dengan baik saling mengisi begitu, sehingga kalau saya dapat berpasangan dengan Pak Jusuf Kalla saya sudah membayangkan bahwa kami bisa membangun pemerintahan yang efektif dengan program yang kongkrit, dengan agenda dan prioritas yang jelas dan bagaimana kami bisa masuk ke dalam wilayah masyarakat kita untuk bisa mengambil keputusan dengan tepat dan mengembangkan kebijakan yang tepat pula. Itu yang terbayang.

Atau jangan-jangan aksioma politik Anda, yang itu loh Jawa luar Jawa

Nah kebetulan Pak Jusuf Kalla yang saya nilai memiliki kapasitas dan integritas yang tepat untuk menjadi wakil presiden untuk berpasangan dengan saya. Kebetulan beliau berasal dari luar Pulau Jawa yang tentunya mungkin ini juga menjadi penguat dari duet yang Insya Allah saya jalankan bersama beliau.

Apa artinya itu meninggalkan tawaran Gus Dur, tawaran Pak Amien dan juga Pak Akbar tentunya?

Tidak ada pembicaraan konklusif, pembicaraan formal, apalagi melibatkan partai-partai politik bahwa saya pasti berpasangan dengan A, B, dan C. Yang ada itu komunikasi politik selama ini. Saya tahu bahwa Gus Dur juga berkomunikasi politik dengan banyak elite, Pak Amien Rais juga demikian, Pak Akbar Tanjung juga demikian. Jadi kalau saya juga berkomunikasi sesuatu yang wajar dan sebagai contoh misalkan pembicaraan saya dengan Pak Amien Rais kita bicara itu beberapa skenario, beberapa opsi. Opsi yang pertama saya katakan tentu siapapun diantara kitakan menginginkan menjadi putra terbaik bangsa. Kita kan tidak boleh munafik, jadi Pak Amien tentu berjuang, saya juga berjuang untuk bisa berhasil membangun negeri ini dan masih ada sejumlah opsi yang mungkin terjadi dalam perjalanan politik ini. Oleh karena itu, biarkan semua opsi itu terbuka karena pada saatnya akan ada jalan mana yang lebih realistik.

Opsi selain Pak Kalla? Artinya apakah Anda sudah menyiapkan opsi lainnya juga selain dengan Pak Kalla?

Saya sudah mengambil keputusan, karena ini pertimbangannya sangat masak, tidak bisa hanya trial and error tidak boleh window shopping terus menerus. Saya sudah mantap dan saya kira kami berdua sudah sepakat apabila ada peluang Insya Allah kami akan maju secara bersama sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Saya harus mengatakan ini pilihan yang sudah definitif.

Kesepakatan untuk komunikasi dengan Pak Kalla sebetulnya persisnya kapan pak?

Kalau komunikasi ini kan terus berlangsung ya.

Untuk RI 1 dan RI 2 nya?

Ya saya tidak ingat mulai kapannya, tetapi setelah selesai Pemilu legislatif inilah. Jadi setelah 5 April lalu kami berkomunikasi secara intens tetapi sebelum-sebelumnya kami kan juga sudah berkomunikasi.

Ketika Anda mundur sebagai menteri, Jusuf Kalla yang pertama kali datang menemui Anda. Apa ini juga menjadi dorongan untuk memilih Jusuf Kalla sebagai cawapres?

Ya saya kira tidak harus dikaitkan, tapi itu bergambarkan bahwa kami dekat memang, saling sapa menyapa, saling memberikan bantuan moril lah apabila salah satu diantara kami mengalami tantangan politik. (Tim 68H)

-Sumber: Susilo Bambang Yudhoyono, Calon Presiden Partai Demokrat

Pemerasan

| | Comments (4)

Mudah-mudahan anggota Dewan yang baru nanti kelakuannya gak ada yang kayak begini...

Ini terjadi di kalangan anggota Dewan yang terhormat. Seorang anggota Dewan pada suatu siang ditelepon oleh seorang perempuan.

Suara di sana berkata, "Selamat siang Bapak Anggota Dewan." Dari suaranya perempuan itu masih muda.

"Siang."

"Ini siapa ya?" tanya anggota Dewan itu.

"Saya Anne, yang pernah tidur bersama Bapak waktu itu," jawab si perempuan.

"Hahh???" terdengar penasaran.

"Kalau Bapak tidak ingin rahasia itu terbongkar, Bapak harus memberi saya uang tutup mulut!" ancam si perempuan.

"Oke, baiklah," jawab anggota Dewan itu pasrah.

Kemudian dia berpikir, di mana pernah meniduri perempuan tersebut.
Beberapa hari kemudian si anggota Dewan itu menyerahkan sejumlah uang di suatu tempat yang telah ditentukan.

Tetapi, setelah beberapa hari kemudian, si perempuan itu menelepon lagi dan meminta hal yang sama. Dengan hati yang masih penasaran, anggota Dewan yang terhormat itu mengabulkan permintaannya. Tetapi, anehnya setelah beberapa minggu kemudian, wanita itu meminta hal yang sama dengan ancaman yang sama.

Akhirnya, dengan pasrah anggota Dewan itu mengabulkan permintaan tersebut.

Walaupun begitu, anggota Dewan itu menjawab dalam teleponnya. "Okelah aku kabulkan permintaanmu. Tetapi, jangan bikin penasaran gitu dong. Saya cuma ingin tahu emangnya kita pernah tidur bersama di mana?"

Wanita itu menjawab dengan lembutnya, "Kita sama-sama anggota DPR, kita kan pernah tidur bersama pada waktu Bu Mega membacakan pidatonya di Gedung DPR!"

Berita tentang Blog Pemilu 2004 ini.

Tanpa dinyana tanpa didaftarkan link ke Blog Pemilu 2004 ini sekarang bisa dilihat sebagai salah satu link di Yahoo! Directory dibawah kategori:

Directory > Regional > Countries > Indonesia > Government > Politics > Elections

Lucu juga karena Blog ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, tapi tim reviewer di Yahoo! bisa nebak dan nambahin keterangan dibawah ini:

Blog Pemilu 2004 - from Goblog Media. Weblog dedicated to the 2004 Indonesia elections.

Bersandingan dengan link ke liputan Jakarta Post dan BBC News :)

Hacked!

| | Comments (7)

Kejadian yang menimpa situs resmi tabulasi suara KPU kemarin sungguh hal yang lucu. Menurut berita yang dilansir detik.com, situs tersebut sempat kacau sore kemarin (Sabtu 17 April 2004).

Untungnya (kalau ini masih bisa disebut untung), yang diserang sang hacker hanyalah tampilan situs tersebut. Nama-nama partai dirubah dengan kocak seperti iklan layanan masyarakat mengenai pencoblosan.

Ada Partai Jambu, ada Partai Air Minum Dalam Kemasan, Partai Kolor Ijo juga ada.

Sedangkan angka-angka hasil perhitungan masih dalam kondisi aman karena pengamanan databasenya yang lebih ketat, menurut salah seorang pejabat TI KPU.

Kejadian ini bisa dilihat sebagai ungkapan ketidakpuasan masyarakat terhadap kerja KPU dalam melakukan penghitungan suara yang lambat dan bermasalah. Hal itu diperburuk lagi dengan sikap arogan KPU yang sangat membanggakan sistem TI-nya.

Saat ini (Minggu 18 April 2004, 10.15 WIB), situs tnp.kpu.go.id sudah normal kembali. Sayang kita tidak sempat menyimpan capture dari tampilan situs saat itu. Paling tidak, kejadian ini cukup bisa membuat kita tersenyum.

20 Syarat Capres dan Wapres

| | Comments (4)

Apakah capres dan wapres kamu memenuhi 20 syarat dibawah ini? Coba diperiksa dari sekarang. :)

Dari berita KCM KPU: Capres Harus Penuhi 20 Persyaratan

Syarat dibawah ini harus dipenuhi dan jika tidak terpenuhi maka calon tersebut dinyatakan gugur (UU 23/2003 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden).

Sedang syarat-syaratnya sendiri tertulis dalam Pasal 6 UU 23/2003 tentang Pemilihan Presiden

Capres dan Cawapres harus:

  1. Memiliki kemampuan secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai presiden dan wapres.
  2. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Warga negara Indonesia sejak kelahirannya
  4. Tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri.
  5. Tidak pernah mengkhianati negara.
  6. Bertempat tinggal dalam wilayah NKRI.
  7. Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara.
  8. Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara.
  9. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan.
  10. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
  11. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela. (RANCU!)
  12. Terdaftar sebagai pemilih.
  13. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan telah melaksanakan kewajiban pajak selama 5 (lima) tahun terakhir yang dibuktikan dengan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi.
  14. Memiliki daftar riwayat hidup serta belum pernah menjabat sebagai presiden atau wapres selama dua kali masa jabatan dalam jabatan yang sama.
  15. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.
  16. Tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana makar berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
  17. Berusia sekurang-kurangnya 35 tahun.
  18. Berpendidikan serendah rendahnya SLTA atau yang sederajat.
  19. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI.
  20. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih.

George Says

| | Comments (4)

Dari George Says.com

How true President Bush, how true :D

George says about Blog Pemilu 2004

Penolakan Umum (Penolu)

| | Comments (2)

Bayangkan sebuah adegan pernikahan dalam film Hollywood, di mana di depan altar ketika sang pastor bertanya : "Those who know the reason why these two should not be joined in the holly matrimony shall speak up now or forever ...", sembilan belas tangan tiba-tiba mengacung. Sebelas laki --yang ternyata mantan si pengantin wanita dan delapan lainnya perempuan, mantan si laki yang dulu telah ditolak. Apa yang akan terjadi? Tentu repot. Tapi jangan kuatir, setidaknya ini tidak akan terjadi dalam film-film Hollywood, setidaknya belum selama kesembilanbelas mantan tadi bukan politisi karbitan dan pemimpin partai gurem Indonesia, yang tidak mengerti arti sebuah penolakan.

Amin Rais pernah bilang, buat partai dan kampanye itu ibarat jualan. Kalau konsepnya baik dan diterima ya jualannya laku. Kalau ngga alias ditolak, yah bangkrut.... Nah, ini satu konsep yang layak diperdebatkan. Apakah ketika sebuah partai tidak dipilih otomatis berarti partai tersebut ditolak? Dalam sistem bipartai seperti di amerika di mana dua partai besar mendominasi, pilihan terhadap satu partai dapat secara otomatis dapat dimaknai sebagai penolakan terhadap partai yang lain. Namun, dalam sistem multipartai dengan 24 kontestan, repotnya, pilihan terhadap satu partai belum tentu dimaknai sebagai penolakan terhadap 23 yang lain. Mungkin hanya kurang suka, biasa saja, agak benci sampai benci setengah mati.

Maka kebanyakan partai pun jadi gede rasa (ge er). Partai-partai bersuara kecil yang notabene ditolak mentah-mentah konsepnya oleh pasar pemilih, justru tidak merasa ditolak dan malah dengan seenaknya menolak suara rakyat. Ini diwujudkan dalam deklarasi penolakan pemilu beberapa hari yang lalu. Lalu wajar kalau banyak yang jadi bertanya, ini partai-partai maunya apa sih? Wong sudah ngga dipilih, apa tidak merasa ditolak?

Dari artikel di The Asia Pacific Media Network dengan judul PDI-P biggest ad spender during election campaign. Sumber berita dari The Jakarta Post, Selasa, April 13, 2004

Artikelnya mengutip data yang dikumpulkan oleh Institut Studi Arus Informasi ISAI (Studies on the Free Flow of Information) menunjukkan bahwa PDI-P sebagai pengiklan teraktif di TV dan Radio selama dua minggu pertama masa kampanye.

PDI-P menayangkan 1,268 spots, melebihi PAN dengan 302 spots dan PKPB dengan 252 spots seperti diungkapkan oleh Agus Sudibyo peneliti dari ISAI.

Mengutip Triawan Moenaf, chairman of Euro RSCG Partnership Adwork Agensi yang membuat iklan PDI-P, mengatakan bahwa walaupun frekwensi dari iklan tersebut tentu membantu, tapi iklan tersebut tidak akan mencapai target audiensnya jika pesan yg ditampilkan tidak didesain untuk sesuai dengan selera publik. It would not have reached the target if the messages had not been crafted "to suit the audience's appetites."

Menurut Agus lagi, di TVRI, Metro TV dan SCTV adalah tiga stasiun dengan iklan partai terbanyak yaitu 704, 476 and 434. Diikuti oleh Indosiar (340 spots), TV7 (340), ANteve (332), RCTI (329), TPI (306), Lativi (263), Global TV (253) and TransTV (249).

TVRI terbanyak? Masuk akal ya karena dia yang jangkauan dan audiensnya paling banyak.

Yang baru kepikir dan lucu juga, ROI (return on investment) dari iklan2x partai ini bener2x bisa diitung hingga satuan nilai setiap suaranya.

Misalnya PDI-P menghabiskan Rp 20 M untuk konsep, produksi dan tayang, diakhir pemilu dia meraih 20 juta suara, maka satu suara bernilai Rp 1000.

MURAH YA! Daripada harus money politic, satu orang minta Rp 20,000 misalnya, lebih murah pasang iklan! :D

Kali ini singkat saja.

Baru tau kemarin dari Majalah Tempo kalo ternyata Partai Demokrat dikelilingi angka 9 [sembilan].

Didirikan tanggal 9 September dengan 99 penandatangan deklarasi. Calon Presidennya lahir 9 September. Dalam Pemilu 2004 mendapat nomer urut 9.

Calon Presidennya mundur dari kabinet tanggal 9 Maret. Hari pertama setelah Pemilu dikunjungi oleh PKB yang berlambang 9 bintang.

Buat beberapa kalangan, angka 9 dianggap sebagai angka keberuntungan. Cuman...ini yang mungkin gak mengenakkan buat Ucok. Apakah SBY akan jadi Presiden tahun ini atau pada tahun 2009....he..he...

Mengutip dari berita di Media Indonesia bahwa menurut pakar politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Samugyo Ibnuredjo, penolakan hasil pemilu oleh kelompok yang menamakan diri Aliansi 19 Partai Politik untuk Keselamatan Bangsa yang dilakukan SETELAH mereka ikut pemilu merupakan cermin sikap mental parpol pengecut dari pihak-pihak yang kalah.

Salah seorang teman di sebuah milis bahkan mengatakan bahwa dengan tindakan ini: para pimpinan partai ini sedikit banyak telah mengajarkan rakyat bagaimana menjadi munafik secara sah demi kepentingan politik.

Dia meneruskan dengan menulis:

Sebagian orang mencari cari kesalahan sistem pemilu dengan menyalahkan pengelolanya, sebagian lagi menyesalkan rakyat karena telah salah melakukan pilihan.

Ini adalah bukti bahwa para peserta pemilu sendiri tidak demokratis, karena tidak menghormati pilihan rakyat, yang tadinya begitu mereka sanjung sanjung. Kalau rakyat memilih mereka, mereka katakan rakyat telah melakukan yang benar. Kalau rakyat memilih Golkar dan PDI, mereka katakan rakyat tidak terdidik, lembam dan lain lain sifat jelek apapun sepanjang sifat itu bisa dinisbahkan kepada rakyat yang tidak memilihnya.

Tulisan beliau diatas goes on and on tentang demokrasi adalah sistem yang cacat dan kita sebaiknya tidak berharap pada sistem ini dan sebaiknya menunggu Satrio Piningit dan Ratu Adil yang memang dijanjikan akan datang, hal mana IMHO masih kejauhan buat gue percaya.

Anyway, keluar dari tulisan diatas, penolakan2x dalam bentuk apapun, terutama SETELAH sebelumnya ikut dalam permainan, dan TERUTAMA karena pihaknya TIDAK MENANG, layak disebut PENGECUT dalam hal ini.

Lanjutan kopian artikel di Media Indonesia di atas berjudul Menolak Hasil Setelah Ikut Pemilu Cerminkan Parpol Pengecut bisa kamu baca dengan lengkap di bawah ini.

Untuk apa KOALISI?

| | Comments (3)

Tulisan original dari salah satu pesan di milis apakabar tulisan Rovicky Dwi Putrohari

Saat ini banyak prediksi-prediksi bahkan rekayasa untuk pemilu tahap ke II (Pemilihan Presiden) tentang koalisi antar partai-partai.

Partai A akan berkoalisi dengan partai B. Partai C tidak mau berkoalisi dengan Partai D, E dan F dan lain-lain.

Tapi pertanyaannya, untuk apa koalisi? Jelas dalam sistem anggota legislatif kali ini Presiden akan dipilih langsung dan bukan berdasarkan siapa yang mendapatkan (atau berhasil berkoalisi) untuk mendapatkan suara terbanyak di MPR.

Mungkinkah memanfaatkan suara rakyat yang "langsung" ini dikoalisikan utk Pemilu II? Rekayasa suara?

Jawabannya: bisa, mungkin dan tergantung! Perlu jelas dulu apa fungsi MPR (DPR) nanti dalam Pemilu tahap II?

Untuk saat-saat dini seperti saat ini, koalisi partai tidaklah sepenting hal lain yang lebih utama yaitu misalnya langkah-langkah strategis untuk kampanye presiden.

Koalisi yang dimaksudkan lebih kearah pengerahan dukungan basis masa partai (membentuk opini masyarakat) untuk bersama-sama mendukung seorang calon.

Ini pun tidak menjamin bentuk "koalisi" ini dapat berjalan dengan baik karena kata akhir tetap akan ada di pilihan rakyat (atau di sisi siapa yang mau membeli suara paling mahal), apapun masih mungkin terjadi.

Presiden Friendster

| | Comments (4)

Berita ringan sekali-kali.

Ga usah di media massa resmi, kepedulian masyasekarat, terutama masyasekarat muda masih tinggi terhadap masa depan bangsa kita ini.

Terbukti dengan maraknya dukungan dan kepopuleran calon presiden pemilu kali ini di aplikasi jejaring sosial, Friendster, yang acap kali, biasanya digunakan sebagai ajang cari cewek/cowok untuk kencan.

Dibawah ini ada list para capres dan meta-selebriti lainnya yang bisa kamu temukan di Friendster tentu aja, kamu harus login dulu (atau sign up kalo belum pernah daftar) supaya bisa liat links dibawah ini. Ayo add mereka jadi friends kamu! :)

Calon Presiden Friendster dan lain-lain:

KATEGORI CAPRES:

KATEGORI LAIN-LAIN:

KATEGORI DEMEN NGEBOM:

KPU masih saja mendapat sorotan tajam setelah hari pencoblosan lewat. Keluhan terutama ditujukan pada lambannya performa perhitungan suara yang katanya didukung oleh sistem teknologi informasi (TI) yang baik.

Pertama, masyarakat sempat kecewa karena susahnya akses ke website KPU. Kemudian hasil perhitungan yang ditampilkan terasa sangat lambat. Sampai hari ketiga ini suara yang masuk baru sekitar 30 juta.

Belum lagi berita mengenai sistem TI KPU yang sempat down beberapa kali pada tanggal 6 April 2004 kemarin.

Semua masalah ini tidak bisa ditimpakan kepada ketidaksiapan sistem TI KPU saja. Permasalahan ini adalah akumulasi dari berbagai ketidaksiapan lainnya dalam pelaksanaan pemilu kali ini.

Klise bila dikatakan "kesalahan bukan pada teknologi, melainkan manusia". Tetapi itulah yang terjadi. Suatu sistim teknologi informasi bukan hanya bergantung pada kehandalan infrastruktur. Melainkan perpaduan antara manusia, teknologi, dan proses.

Pada kasus ini, kita mungkin tidak tahu bagaimana kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, ataupun proses yang terjadi di berbagai daerah perhitungan untuk dapat sampai ke pusat.

Kita juga bisa memaklumi bahwa proses yang terjadi di berbagai daerah pemilihan belum "IT-minded", atau bisa dikatakan lebih condong manual.

Jadi untuk sementara, kita saksikan saja bersama-sama dengan kritis dan sabar keseluruhan proses pemilu ini. Bagaimanapun kita semua sedang dalam proses belajar yang masih sangat panjang.

Akses Site KPU tidak lagi lamban

| | Comments (2)

Site Laporan Perhitungan Suara KPU terasa lebih cepat hari ini?

Jangan salah, ini adalah hasil dukungan kerja swakarsa dan swadaya beberapa pihak yang mengatasnamakan diri mereka Kelompok Masyarakat Peduli ICT Indonesia

Tergerak karena khawatir dengan citra internet indonesia yg nampak lamban untuk akses ke situs KPU, maka menurut mas Heru Nugroho yang mengirimkan berita ini ke milis ebisnis, beberapa pihak telah melakukan langkah-langkah kritis agar masyarakat bisa melihat data perhitungan dengan mudah.

Kelambatan site KPU sendiri dikarenakan terbatas-nya kapasitas bandwidth antara IIX ke server-server milik KPU (kemarin hanya 1 Mbps).

Dan setelah rembukan dan kerja kilat kini kapasitas akses IIX - server2 KPU menjadi 100 Mbps.

Dari email mas Heru Nugroho sendiri:

Pengadaan ini benar2 dilakukan secara swakarya & swadaya, dan sedikit bantuan dari KPU untuk mengganti biaya2 perangkat tambahan dalam proses instalasi.

Tidak lupa saya harus memberikan apresiasi yg setinggi-tingginya kepada rekan2 dari PSN, IDC Indonesia, Kabelvision, APJII, dan lain2 yg tidak bersedia disebut identitas-nya disini.

Bravo Kelompok Masyarakat Peduli ICT Indonesia! :)

8 April 2004, Moncong Putih naik lagi

Kali ini info yang diperoleh dari Pusat Tabulasi KPU, pada Pukul 9.10 WIB. Mungkin karena masih pagi jadi akses ke websitenya kali ini lumayan cepat.

1. PDIP; 6,670,739 suara; 20.71 %
2. Partai Golkar; 6,468,099 suara; 20.08 %
3. PKB; 4,416,055 suara; 13.71 %
4. PPP; 2,609,914 suara; 8.10 %
5. Partai Demokrat; 2,470,765 suara; 7.67 %

Jumlah total suara yang sudah masuk adalah 32,215,277.

Ternyata tempat pertama yang kemarin diduduki Golkar sudah digeser oleh PDIP. Dengan selisih suara yang bersaing ketat. PKB dan Partai Demokrat masih di tempat ke-3 dan ke-5. Diluar dugaan, PPP ternyata masih menunjukkan kekuatannnya dengan menyodok PKS keluar dari lima besar.

Sebuah acara TV swasta kemarin malam membahas jasa calo pengerah massa kampanye dan penjual suara saat pemilu 5 April lalu. Tampil dalam bincang2, sosok wanita muda umur 23 tahun asal Surabaya yang dengan pede-nya menyebut angka 5000 suara untuk berbagai keperluan kampanye. Nomimal 5000 adalah sekedar acuan angka di luar kepentingan. Semisal perlu hanya untuk kampanye dia berani menyebut tarif hingga 2 milyar rupiah diluar atribut kampanye. Sedangkan untuk suara dalam pencoblosan pemilu tentu tarifnya lebih besar atau tergantung negosiasi harga yang bisa dinilai dari besar kecilnya parpol peminat. Dijelaskan, seorang peserta kampanye minimal akan mendapat bayaran 50 ribu rupiah plus atribut kampanya, makan dan transportasi. Sedangkan kompensasi jasa dirinya adalah 10% dari total bayaran peserta yang nantinya akan dibagi dengan 10 orang anggota tim-nya.

Hebatnya, saat kampanye kemarin ada 3 parpol besar dan 3 parpol baru yang menghubungi untuk memanfaatkan jasanya. Tapi hanya beberapa parpol yang deal tanpa menyebut jumlah dan nama parpol sebagai kode etik bisnisnya.

Bagi sang calo, segmentasi peserta juga membawa nilai jual tersendiri. Dengan berani ia menyebut golongan intelek sebagai salah satu pangsa massanya. Intelek disini diartikan sebagai mahasiswa, namun dilihat domisili tentu pemirsa akan langsung beranggapan bahwa mahasiswa Surabaya-lah yang dimaksud. Penjelasan berikutnya malah sangat mengejutkan, "Saat ini kita bicara soal uang.. Siapa sih yang tidak mau duit 50 ribu untuk tambahan uang kost.."

Pembawa acara tampaknya gigih mengorek semua informasi dengan detail, namun sayang banyak jawaban yang menggantung. Parpol pemakai jasa di asumsikan termakan gaya bicara yang meyakinkan serta mendapat bukti nyata dilapangan dari sang calo. Anehnya begitu ditanya konsekuensi jika jumlah kehadiran massa kurang dari yang dijanjikan, muncul kesan bahwa keduanya (sang calo dan wakil parpol) tidak akan saling menuntut walaupun ada kesepakatan hitam diatas putih.

Jasa calo kampanye adalah bisnis besar dan saling menguntungkan, kotor tidaknya bisnis ini sepertinya tak ada yang perduli. Tayangan ini jelas merupakan bukti nyata bagi KPU atau siapa saja yang berwenang menegakkan hukum, apalagi tercatat banyak pelanggaran dalam pemilu 2004 ini. Dagelan Politik memang lagi lagi membuat moral bangsa kita ini tercoreng.. tapi kembali ya itu tadi, siapakah yang akan perduli. Entah kapan bisa muncul pemimpin Indonesia yang Jujur dan Amanah.. Mungkin tayangan Bajaj Bajuri versi kampanye kemarin yang bisa menjawabnya.

7 April 2004, kembalinya sang beringin?

Sedikit perkembangan perhitungan suara untuk legislatif. Data diperoleh dari SuaraPemilu.Detik.com, timestamp 11:07:37.

1. Partai Golkar; 1,158,565 suara; 24.67 %
2. PDIP; 799,039 suara; 17.02 %
3. PKB; 443,280 suara; 9.44 %
4. PKS; 439,891 suara; 9.36 %
5. Partai Demokrat; 422,425 suara; 8.99 %

Jumlah total suara yang sudah masuk adalah 4,694,690.

Dilihat dari jumlah suara yang masuk, masih terbuka kemungkinan perubahan peringkat lagi. Walaupun terlihat posisi 1 dan 2 cukup besar selisih prosentasenya dengan nomor 3 ke bawah.

Lonjakan Pengunjung

| | Comments (4)

Blog Pemilu 2004 mengalami lonjakan pengunjung saat dan setelah Pemilu 5 April 2004 dilaksanakan.

Pengunjung yang pada akhir bulan Maret dan awal bulan April mencapai sekitar rata-rata 150 pengunjung per hari setelah hari pemilu tiba-tiba melonjak.

Tercatat 271 unique visitors pada 05 Apr, Mon dan 640 unique visitors pada 06 Apr, Tue.

Kebanyakan pengunjung hadir ke Blog Pemilu 2004 ini datang dari search engine Google maupun Yahoo mencari hasil pemilu 2004

Walau banyak yg suara sumbang tentang Pemilu 2004 ini, penyelenggaraan yg ga beres, pemilih yang tidak terdaftar, sistem IT yg belum jalan, kecurigaan curang pada proses penghitungan dan lain-lain dan lain-lain, tapi hasil dari pemilu ini ternyata masih diminati banyak orang.

Dalam masa pemilu seperti ini fungsi media massa sebagai media informasi memegang peranan penting, baik dalam memberikan rasa aman ataupun memberika informasi yang lengkap bagi para pembaca.

Keluar dari idiom bad news is good news rasanya melihat pemberitaan dibawah ini Kompas seharusnya memohon maaf telah memberitakan berita yang tidak akurat (walau tentu alasan yg keluar nantinya adalah: kami hanya memberitakan sedang info kan didapat dari narasumber, atau kami telah memberikan hak jawab dll.).

Pada pemberitaan Senin 5 April 2004, Kompas menurunkan berita dengan judul Tingkat Kegagalan Komputerisasi Pemilihan Umum 2004 Mencapai 92 Persen

Dengan angka 92% didapat dari diskusi tentang pelaksanaan Pemilu 2004 dengan pembicara Roy Suryo dan Didik Supriyanto dari Panitia Pengawas Pemilu.

Dimana menurut uji coba pengoperasian sistem komputerisasi pemilu yang dilakukan oleh tim konsultan TI (teknologi informasi) KPU yang diketuai oleh Prof Marsudi W Kisworo dari Universitas Paramadina PEKAN LALU, ditemukan bahwa dari 100 noktah (node) sambungan komputer yang dipilih secara acak, ternyata 92 di antaranya tidak dapat mengirimkan data, hence 92%

Pada berita hari ini Selasa 6 April, hanya berbeda 1 hari KOMPAS menurunkan berita koreksi (walau tentu saja tidak ada yang mengaku salah melaporkan) Kegagalan Fungsi Komputer Pemilu Kurang dari Tiga Persen

Menurut Basuki Suhardiman, Sekretaris Tim Teknologi Informasi KPU, hanya dibawah 3% saja yang tidak berfungsi, dan ini wajar mengingat wilayah Indonesia sangat luas, jaraknya dari ujung barat ke timur sekitar 5.000 kilometer dan memiliki tiga zona waktu.

Artikel yg sama juga melengkapi dengan mengatakan Dihubungi secara terpisah, Prof Marsudi Wahyu Kisworo, pakar teknologi informasi dari Universitas Paramadina, MEMBANTAH dirinya menguji coba sistem komputer KPU karena ia tidak memiliki otoritas dan akses untuk pengujian tersebut.

Weleh, baru sehari sebelumnya, profesor yang sama menjadi sumber utama judul tendensius bahwa sistem yang sama mempunyai tingkat kegagalan 92%! (Berarti kayaknya ga ngutip dari tangan pertama ya)

Tentu saja hal ini tidak menutup mata bahwa masih ada ratusan lain artikel yg diberitakan oleh Kompas dengan akurat, dan bahwa kesalahan ini hanya sebagian kecil saja dari proses pelaporan lainnya tapi teteup...

Dari 92% ke 3% dalam waktu kurang dari satu hari? Dan narasumber utama yang membantah pernah menguji?

Plis dong ah.

Survey dalam Angkot

| | Comments (8)

Salah satu hal yang sangat menonjol dalam pelaksanaan Pemilu kali ini adalah banyaknya warga yang tidak mendapat kartu pemilih. Tentunya banyak warga yang tidak memberikan suaranya, di luar golput.

Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja banyak yang mengalami hal tersebut. Terutama warga yang tinggal di kos-kosan atau rumah kontrakan.

Iseng-iseng, tadi pagi saya melakukan pengamatan di dalam angkot yang saya tumpangi. Angkot yang ditumpangi adalah mikrolet jurusan casablanca, yang rata-rata penumpangnya adalah karyawan kantoran daerah kuningan dan sudirman. Orang yang kemarin nyoblos tentunya masih ada tanda tinta di jarinya.

kelingking1.jpg

Ternyata dari 10 orang penumpang, 5 di antaranya tidak ada bekas tinta di jarinya. Baik kelingking kiri, ataupun jari yang lainnya. Artinya 5 dari 10 orang dalam angkot tersebut tidak menggunakan hak pilihnya.

Kalau saja saya nekad mengambil kesimpulan dari situ, berarti 50% warga Jakarta tidak ikut nyoblos. Wah, banyak sekali ya?

Tapi jangan panik dulu, namanya juga survey ngaco di atas angkot, tentu saja sampling errornya gede banget.

Untuk yang mencari informasi Hasil Perhitungan Suara PEMILU PRESIDEN (pemilihan capres) Indonesia 5 JULI 2004 dapat langsung mengakses HOME PAGE blog ini untuk info terbaru.

Hasil Pemilu 2004 kemarin, 5 April 2004 dapat dilihat dari sumbernya langsung.

KPU menyediakan alamat sendiri untuk melihat hasil penghitungan ini yaitu:

http://tnp.kpu.go.id/

Memprediksikan akan ada lonjakan bandwidht maka KPU menyediakan dua server yang melayani Laporan Perhitungan Suara masing-masing dapat dicek disini:

Untuk yang berminat mendownload juga tersedia di alamat ini: Download data file CSV

UPDATE: Detik.com juga menampilkan hasil perolehan suara sementara yang bisa dilihat di link ini Perolehan Suara Pemilu 2004 - DPR RI

Beberapa facts yang ditambah-tambahin dari info di CNN ini Facts: Indonesia and its election

  • 210 juta penduduk Indonesia, 126 juta (60%) tinggal di Pulau Jawa
  • Pada pemilu 2004 terdaftar 147 juta pemilih -> 70% dari total penduduk
  • Sejumlah 400,000 pemilih berada di luar negri -> 0.27%
  • Ada 7,700 calon legislatif dari 24 partai, jadi 1 partai mengirimkan 320.8 caleg
  • Rasio antara kursi yg diperebutkan dan caleg adalah 1:14. Setiap satu kursi diperebutkan oleh 14 orang
  • Rasio antara anggota DPR dan jumlah penduduk Indonesia adalah 1:381,818.2. Setiap satu anggota DPR mewakili 381,818.2 warga negara Indonesia

Ternyata lebih susah masuk Teknik Industri ITB daripada jadi anggota DPR, rasio perebutan kursi TI ITB kalo ga salah 1:80 berarti 1:14 mah gampang kali ya, mana tahaaaan :)

Hari Pemilu

| | Comments (2)

Proses pemilihan umum pertama sudah beres. Walau dengan informasi yang minim tapi prosedur pencoblosan di Bangkok Thailand, yang dilakukan di KBRI Bangkok berhasil dilakukan dengan baik, cepat dan efisien. Singkatnya aman dan terkendali.

Gue dapet no urut pencoblos ke 60, dan dengan tiga bilik suara, sejak pengarahan pertama kira-kira 20-30 menit sudah langsung dapat giliran.

Di sebelah ini adalah foto bilik-nya yand ditempatkan di hall olahraga di KBRI Bangkok, dengan salah satu anggota panitia pemilihan umum yang berasal dari kalangan mahasiswa, om Agus yg telah melaksanakan tugasnya dengan baik :)

Antrian di pintu masuk hall.







Sambil menunggu antrian foto-foto dulu sambil pamer kartu pemilih-nya yang baru kita dapat hari ini setelah ditukarkan dengan tanda terima pendaftaran pemilu.

Jam 11.30 kita sudah balik lagi ke kampus, ga nungguin hasil penghitungan. Gimana dengan pencoblosan di daerah kamu? Ada yang aneh? Ada yang lucu? Ada yang ambil foto. Kirim-kirim ke gue ya. :)

Reminder Foto Pemilu Caleg

| | Comments (5)

Besok Pemilu 2004 I akan dilangsungkan. Reminder ke II jangan lupa foto-foto dan kirimin ke gue. :)

Dibawah dan selanjutnya ini ada informasi singkat tentang ke 24 Partai yang ikut pemilu PERSPEKTIF SINGKAT KE-24 PARTAI PESERTA PEMILU 2004

Sumber dari milis Apakabar, penulis original ga dicantumkan.

Sekali-sekali berita positif

|

Jangan yang negatif terus, sekali-sekali berita positif: :)

Dana R. Dillon, seorang Analis Kebijakan Senior-nya Asian Studies Center di The Heritage Foundation, think tank-nya partai republican/conservative US menurunkan analisa dengan judul Elections in Indonesia: Already a Success

Di dalamnya dia menulis bahwa bahkan sebelum dilakukan pemungutan suara hari Senin nanti, Pemilu Indonesia sudah tergolong sukses.

Dia melanjutkan dengan menulis bahwa Indonesia dan rakyat Indonesia telah melakukan kemajuan luar biasa dalam mendemokratisasikan pemerintah dan masyarakatnya, dimana hasil dari pemilu ini nantinya tidak lebih penting dari kesuksesan prosesnya.

Even before the first vote is cast in the legislative elections on Monday, April 5, 2004, the Indonesian elections are a success. Indonesia and Indonesians have made remarkable strides in democratizing their government and society, and the outcome of the election is less important than the success of the process.

Ada beberapa sebab yang membuat dia menurunkan analisis optimis diatas:

1. Secara institusional dalam pemilu ke 2 setelah berakhirnya kekuasaan Soeharto telah terjadi perbaikan2x institusional. Jika pada pemilu sebelumya pemilih hanya dapat memilih partai dimana kemudian partai yang memilih siapa wakil kita di DPR, maka di pemilu besok, pemilih dapat memilih wakilnya secara regional dan pada bulan Juli pemilih, untuk pertama kalinya, akan dapat memilih Presiden secara langsung.

2. Masih secara institusional, DPR baru nanti tidak akan mengandung unsur militer dan polisi yg ditunjuk langsung.

3. "Indikasi makin matangnya masyarakat sipil Indonesia*, terlihat dengan menurunnya jumlah kekerasan dalam pemilu. Tercatat ratusan orang meninggal pada pemilu 1997, 175 orang pada tahun 1999, dan pemilu kali ini hanya mencatatkan 10 angka kematian yg bersangkutan dengan kekerasan pada pemilu.

4. Kematangan masyarakat sipil juga terlihat dari meningkatnya kemampuan polisi dalam memberlakukan peraturan lalu lintas dan pengaturan saat kampanye dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.

5. Ekonomi, indikasi positif lainnya adalah tidak terpengaruhnya Bursa Efek Jakarta terhadap musim kampanye yang menunjukkan kestabilan politik.

Tentu aja mengharapkan segala sesuatunya jadi bagus ga mungkin, tapi minimal kita sudah mulai melangkah ke arah yang benar. Mudah-mudahan.

Contoh Surat Suara

| | Comments (4)

Contoh surat suara Pemilu DPR (klik untuk lihat ukuran yang lebih besarnya)

Surat Suara DPR

Contoh surat suara Pemilu DPD (klik untuk lihat ukuran yang lebih besarnya)
Surat Suara Pemilu DPD

Dua gambar diatas di ambil dari websitenya Centre for Electoral Reform yang mana cukup lengkap dan berguna informasinya.

Sayang websitenya menggunakan frame jadi info-nya cukup susah buat ketemu kalo orang nyari di Search Engine.

Kunjungi halamannya tentang Pemilu 2004 dan kamu bisa download buku tentang Panduan untuk Pemilih Kritis (pdf) (1,5 mb) disitu.



REMINDER OF THE DAY: Jangan lupa buat ambil foto saat PEMILU senin depan dan kirimkan ke gue ya! :)

Evaluasi Kampanye Parpol

| | Comments (3)

Pemilu Legislatif tinggal 3 hari lagi. Sekarang memasuki masa tenang, tidak ada lagi kampanye berupa pengumpulan massa secara tertutup maupun terbuka.

Kampanye memang tidak bisa dipisahkan dari Pemilu. Para peserta Pemilu perlu dan harus melakukan kampanye sebagai proses sosialisasi dan memikat calon pemilih.

Tetapi apakah cara-cara kampanye yang dilakukan sekarang sudah cukup efektif?

Pelaksanaan kampanye Pemilu sekarang sedikit banyak telah mengalami perubahan mengikuti perkembangan media informasi. Karena pada intinya kampanye memang sebuah broadcast informasi. Penggunaan media televisi, radio, dan internet mewarnai pelaksanaan Pemilu kali ini.

Sayangnya effort terbesar yang dikeluarkan para peserta Pemilu masih salah sasaran. Kampanye pengumpulan massa tetap menjadi primadona. Pengorganisasian pesta jalanan besar-besaran dijadikan patokan keberhasilan kampanye.

Sementara banyaknya massa dan warna bendera partai yang menyelimuti jalanan tetap bukan patokan perolehan suara. Masyarakat umumnya telah mempunyai pilihan suaranya masing-masing secara historis.

Ditambah lagi dengan cara pemilihan legislatif yang langsung kepada personil. Para calon pemilih yang bingung biasanya mendedikasikan suaranya pada personal yang paling dekat kekerabatannya. Misalnya tetangganya yang jadi caleg, atau teman kakak iparnya, mertua tetangganya, dll.

Sedikit hasil kampanye yang bisa dinilai positif adalah keberhasilan sebuah hiburan rakyat tingkat nasional. Mulai dari anak-anak dan orang tua larut dalam sorak-sorai dan joged bersama artis-artis ibukota.

Evaluasi pertama setelah Blog Pemilu 2004 berusia kurang lebih 1 bulan dimana posting pertama dan launch dilakukan pada tanggal 10 Maret 2004

Hingga saat Blog Pemilu 2004 telah telah memposting 35 entries, menerima 81 comments dan memiliki 6 kontributor langsung ditambah kontributor lain.

Pengunjung yang hadir sepanjang bulan Maret yaitu sebanyak 2384 unique visitors dengan jumlah page views 4420 halaman yang dibaca.

Dari jumlah diatas, rata-rata pengunjung per hari yaitu sebanyak 76.9 orang.

Blog Pemilu 2004 juga menempati posisi pencarian ke 4 untuk kata kunci (keyword) "Pemilu 2004" di Google dan Yahoo

Moga-moga kedepan, Blog Pemilu 2004 bisa makin ramai dan terus di update. Ucapan terima kasih untuk para kontributor dan pengunjung semuanya.

Untuk yang berminat jadi kontributor langsung, silahkan layangkan email ke alamat email ini

Koalisi Media

| | Comments (1)

Websita Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil bisa ditemukan disini Koalisi Media

Desain websitenya lumayan bagus dan bagian berita serta opini -nya menarik untuk dibaca karena isinya berbeda dari yang dimuat di mainstream media terutama karena berita dan opini di site ini justru berita tentang mainstream media khususnya yang berhubungan dengan Pemilu

Apa itu Koalisi Media? Dari sitenya sendiri:

Koalisi Media untuk Pemilu 2004 ini merupakan inisiatif tujuh lembaga masyarakat yang masing-masing mempunyai jaringan luas di tingkat internasional hingga lokal dan telah berpengalaman menjalankan program media berkaitan dengan Pemilu 1999.

Tujuh lembaga masyarakat diatas adalah:

Jangan lewatkan juga bagian Humor Pemilu-nya yang lumayan banyak :)

About this Archive

This page is an archive of entries from April 2004 listed from newest to oldest.

March 2004 is the previous archive.

May 2004 is the next archive.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Powered by Movable Type 4.01